This is my world…

[FF] Love U More (2/2)

[FF] Love U More (2/2)

Author     : Regina aka Han Hyemi

Genre      : Continue, Humor, Romance

Cast :

– Lee Donghae

– Han Hyemi

– Lee Hyukjae

– Lee Hanjae

 

– Donghae’s POV –

 

Ting…. Tong… Kupencet bel rumah Hyemi. Aku penasaran seperti apa penampilan Hyemi malam ini. Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka.

“Ah, Donghae-sshi. Mian lama,” ujar Hyemi setelah membuka pintu. Kupandangi Hyemi dari kaki hingga kepala. Omo…

“Yeppeuda,” gumamku tanpa sadar. Apa yang kukatakan tadi?

“Ehmm.. tadi kau bilang apa? Aku gak denger,“ tanyanya.

“Oh, gak papa,“ jawabku gelagapan.

“Ehmm… Kajja! Nanti mereka dah nunggu lagi,“ ajak Hyemi.

“Eh.. oh… ne…“ jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Duh, kenapa aku jadi salting begini sih?“ batinku.

 

 

– Hyemi’s POV –

 

Ting…Tong.. Kudengar seseorang memencet bel rumahku. Ah, pasti itu Donghae. “Duh, gimana nih?“gumamku sambil mondar-mandir di depan kaca. Dengan terburu-buru aku membuka pintu.

“Ah, Donghae-sshi. Mian lama,“ ujarku setelah membuka pintu. Kulihat Donghae sudah berdiri di depan pintu dengan mengenakan kemeja putih dan celana jeans hitam. Tampan sekali.

“Yeppeuda,“ gumamku Donghae yang sukses membuyarkan lamunanku.

“Ehmm.. tadi kau bilang apa? Aku gak denger.“ saking sibuknya dengan lamunanku, sampai-sampai aku tidak dengar apa yang dikatakannya tadi. Babo!

“Oh, gak papa,“ jawab Donghae. Kenapa bicaranya seperti itu? Apa dia gugup? Hah, sok tau sekali dirimu, Hyemi! >.<“

“Ehmm… Kajja! Nanti mereka dah nunggu lagi,“ajakku. Lebih baik cepat pergi daripada canggung seperti ini.

“Jangan lupa, pegangan!“ ujarnya mengingatkan.

”Yee… arasseo.. Sudah kapok aku,“ jawabku kesal.

 

 

-Café-

 

“Hae, gimana? Dah siap semuanya?” tanya Hyukjae memastikan yang dibalas dengan anggukan oleh Donghae.

“Hye, gimana dengan Hanjae?” tanya Hyukjae lagi.

“Sudah kutelepon, sekarang dia sudah di jalan,” jawabku.

“Baiklah, sekarang kau duduk di meja itu. Hyemi, kita cari tempat yang tidak bisa dilihat Hanjae,“ jelas Donghae seraya menunjuk meja nomor 10, meja yang akan dipakai oleh Hyukjae dan Hanjae. Hyukjae lalu duduk di meja nomor 10 yang tadi ditunjuk oleh Donghae.

“Donghae-sshi, aku tau dimana tempat yang bisa memantau mereka tanpa diketahui Hanjae. Ikut aku,“ ajakku seraya menggandeng tangannya. “Ternyata tangannya besar juga,“ pikirku. Lalu aku membawa Donghae ke salah satu meja yang berada di pojok ruangan.

Drrtt… drrtt.. Kuambil ponselku dari dalam tas kecilku. Ada 1 pesan baru. Segera kubuka pesan itu.

 

From    : Hanjae

 

Kau dimana? Aku sudah di depan pintu masuk.

 

Reply    :

To    : Hanjae

 

Masuklah. Aku duduk di meja nomor 10.

 

Sentà

 

“Hanjae sudah datang,” kataku pada Donghae.

“Ah, jinjja?“ tanyanya memastikan. Ia lalu menoleh ke arah pintu masuk.

 

–    Author’s POV –

 

Hanjae sudah sampai di depan pintu café. Ia terlihat sedang mencari di mana tempat yang dimaksud Hyemi. Alangkah terkejutnya ia saat melihat seorang namja yang sudah tak asing lagi di matanya sedang duduk di meja nomor 10. “Hyukjae?” batin Hanjae. Ia lalu menghampiri Hyukjae.

“Ehm.. Hyukjae?” tanya Hanjae ragu.

“Oh, Hanjae? Sudah datang?“ tanya Hyukjae. Terlihat wajahnya yang terkejut melihat kedatangan Hanjae. Dilihatnya Hanjae dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Yeppeuda,” gumam Hyukjae.

“Ah, gomawo,” jawab Hanjae malu-malu. Merekapun diam. Sama-sama canggung dengan keadaan saat ini.

“Mmmm… Ngomong-ngomong, ngapain kau di sini? Setauku aku janjian dengan Hyemi. Kenapa kau ada di sini?“ tanya Hanjae memecah keheningan di antara mereka.

“Ehmm… Sebenarnya aku menyuruh Hyemi untuk membawamu datang ke sini,“ jelas Hyukjae.

“Mwo? Trus, ada apa kau menyuruhku kemari?“ tanya Hanjae malu-malu tanpa berani melihat ke arah Hyukjae.

“Mmm… sebenarnya… sebenarnya…” ucap Hyukjae terbata-bata. Terlihat wajah Hanjae yang sedang kebingungan.

“Sebenarnya.. aku…. suka… ani… cinta… sama kamu. Dari awal melihatmu, aku sudah menyukaimu. Semakin lama, rasa sukaku ini berubah menjadi cinta,” ungkap Hyukjae terbata-bata. “Mmm… would you be mine?“ lanjutnya. Hanjae yang sedari tadi mendengar apa yang dikatakan Hyukjae terkejut, tidak percaya, dan juga senang, pastinya.

“Apa aku sedang bermimpi?“ tanya Hanjae masih tidak percaya.

“Eh?“ tanya Hyukjae heran seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Dari awal melihatmu, aku sudah menaruh hatiku padamu… Yes, I do,“ jawab Hanjae sambil tersenyum lebar.

“Ah, jinjja?” tanya Hyukjae tidak percaya yang disertai oleh anggukan dari Hanjae. Sontak Hyukjae berdiri menghampiri Hanjae dan memeluk yeoja yang sekarang menjadi yeojachingunya dengan erat.

“Saranghae,” bisik Hyukjae tepat di telinga Hanjae.

“Na do saranghae,“ jawab Hanjae. Tanpa mereka sadari, ada 2 pasang mata yang sedang sedari tadi memperhatikan mereka sambil tertawa.

“Aigoo.. perasaan ribet amat ngomongnya,” ujar Hyemi sambil tertawa geli.

“Hahaha.. tapi setidaknya rencana kita berjalan dengan lancar,” ujar Donghae seraya menghapus air mata yang berada di pinggir matanya karena sedari tadi tertawa.

“Sekarang kita mau ngapain?” tanya Hyemi.

“Mmm.. bagaimana kalau kita ke taman di seberang jalan?“ tanya Donghae menawarkan.

“Baiklah. Tapi kita harus hati-hati keluarnya, jangan sampai ketahuan oleh mereka,“ kata Hyemi.

“Tenang saja. Ini,“ ujarnya sambil menyerahkan topi dan kacamata hitam. “Pakai ini biar tidak diketahui mereka,“lanjutnya seraya memakai kacamata hitam dan jaketnya. Hyemi menuruti kata Donghae dan memakai alat samaran yang diberikan Donghae untuknya. Setelah mereka siap, mereka lalu pergi meninggalkan cafe itu tanpa sepengetahuan Hyukjae dan Hanjae.

“Huft, untung mereka gak liat kita,” ujar Hyemi seraya menengok ke arah Hyukjae dan Hanjae yang masih asyik berdua.

“Kajja, sebelum Hyukjae nyadar,” ajak Donghae seraya menggandeng tangan Hyemi. Wajah Hyemi dan Donghae memerah saat mereka bergandengan. Donghae lalu membawa Hyemi ke salah satu ayunan yang berada di rengah taman. Saat itu tidak ada orang lain di taman itu.

“Eng.. ngapain kita ke sini?” tanya Hyemi canggung.

“Emmm… ngapain ya? Aku juga gak tau, ” jawab Donghae sama canggungnya. Mereka sama-sama diam, bingung mau membicarakan apa.

“Mmm.. sebaiknya kita di sini saja sampai mereka selesai. Kan gak enak juga kalo kita memantau orang yang lagi ngedate,” ujar Donghae.

“Baiklah. Hmm.. aku bingung, mereka yang berkepentingan, tapi kok malah kita yang susah ya?” tanya Hyemi sambil tertawa kecil.

“Haha.. betul juga. Yah, itulah konsekuensinya berteman dengan orang yang sedang jatuh cinta. Sampai urusan cinta mereka saja kita yang urus. Haha..” kata Donghae seraya memainkan ayunan yang didudukinya. Hyemi ikut mengayunkan ayunan yang didudukinya.

 

– 2 hours later –

 

“Hmpf… lama sekali mereka. Hatchi!” ujar Hyemi kesal seraya mengusap-usap lengannya yang kedinginan. Donghae melihat Hyemi yang sedang kedinginan.

“Kalau kau kedinginan, bilang dong dari tadi,” ujar Donghae seraya mengenakan jaket yang dipakainya tadi kepada Hyemi. Rasanya jantung Hyemi berhenti berdetak.

“Aniyo. Aku gak kedinginan. Kau saja yang pakai,” kata Hyemi seraya menyerahkan jaket yang tadi dipinjamkan Donghae padanya.

“Geojitmal! Nan gwaenchana. Pakai saja,” kata Donghae. Akhirnya Hyemi memakai jaket tersebut. Karena saking senangnya, sampai-sampai Hyemi tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.

“Hyemi-ah, kenapa kau? Kalo senang gak usah segitunya kalee,” canda Donghae.

“A…a-paan sih? Kumt lagi deh penyakit PDmu,” kata Hyemi sambil mendengus. Memang benar apa yang dikatakan Donghae, tapi tak mungkin ia mengakuinya.

“Hahaha… just kid… Jangan marah dong,” kata Donghae seraya mencubit pipi Hyemi. Tiba-tiba saja wajah Hyemi memerah. Dengan cepat dia membuang muka agar Donghae tidak melihat wajahnya yang merah padam.

“Eh, itu Hyukjae dan Hanjae. Sepertinya mereka sudah selesai,” kata Hyemi seraya menunjuk Hyukjae dan Hanjae yang baru saja keluar dari cafe.

Drrrtt… Drrrtt…

Donghae merasakan ada pesan masuk di ponselnya. Dengan segera ia meraih ponselnya dari saku celana jeansnya dan membuka pesan tersebut.

 

From    : Hyukjae

 

Ya! Kemana kalian? Kenapa menghilang tiba-tiba?

 

Reply:

To    : Hyukjae

 

Mian, kami males melihat kalian berkencan, jadi kami keluar.

Sekarang kami ada di taman seberang jalan.

Kau antarlah Hanjae pulang sekarang, sebentar lagi kami akan pulang.

 

Sent–>

 

From    : Hyukjae

 

Oh, baiklah. Jeongmal gomawo, chingu.^^ Sampaikan rasa terimakasihku pada Hyemi. Hati-hati di jalan.

 

Donghae memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

“Hyukjae berterimakasih padamu atas bantuanmu. Sekarang kita pulang saja, aku sudah menyuruh mereka pulang dulu,” kata Donghae.

“Ah, anieyo. Mereka kan sahabatku, pastinya aku harus membantu mereka. Mmm.. baiklah. Kajja!,” ajak Hyemi.

 

—————————————————————————————————————–

 

– Hyemi’s POV –

 

Aduh, aku lupa mengembalikan jaket ini! Gara-gara tugas dari Yang seongsaeng, aku sampai telat pulang. Hujan deras lagi. Dia sudah pulang belum ya?” gumamku panik seraya melangkahkan kakiku dengan cepat di koridor sekolah. Langkahku terhenti saat mendengar nyanyian seseorang diiringi petikan gitar dari ruang musik. Dengan ragu kubuka pintu ruang musik. Akupun memasuki ruang musik tersebut untuk mencari tahu siapa pemilik suara emas itu.

 

    Geudae mam sogeneun sarangi eomneun geol

    Gidarim soge geudaewa geudaewa

    Naui mam sogeneun modeun ge sarangin geol

    Ne sumgyeori nae mamsoge inneungeol

    Love U more, Love U more, Love U more

    Nae mam soge inneun neol

    Love U More, Love U More

    Ne sumgyeori nae mamsoge inneun geol

“Ngapain kau melamun di situ?” tanya pemilik suara itu setelah menghentikan nyanyiannya.

“A..a-aniyo.. aku sedang berjalan di koridor sini, trus tiba-tiba aku mendengar suaramu. Karena penasaran, aku ke sini,” jelasku. “Ah, kebetulan, aku juga mau mengembalikan jaketmu,” lanjutku seraya berjalan menghampirinya. Kuserahkan jaketnya dan duduk di sampingnya. Kami duduk di lantai karena tak ada satupun kursi di ruangan ini *kasian*.

“Kau suka lagu itu?” tanyaku mengawali pembicaraan.

“Iya. Kau?” tanyanya padaku.

“Iya… eh, aniyo. Bukan suka, tapi sangat suka. Saat pertama kali mendengar lagu ini, aku merasa bahwa suatu saat nanti aku akan menemukan cintaku yang sesungguhnya. Meskipun harus lama menunggu, aku yakin cinta itu akan datang dengan sendirinya,” ungkapku. Entah kenapa tiba-tiba aku berbicara seperti ini.

“Hmmm… benar juga. Jodoh itu sudah diatur Tuhan, kita hanya tinggal menunggu kapan bertemu dengan jodoh kita. Mmm.. Tumben kau bijak, hehe..” canda Donghae.

“Hehehe… gomawo,” jawabku malu.

“Ehmm… dah jam 18.30, aku pulang dulu ya, sebelum hari semakin malam,” pamitku padanya.

“Oh, ya. Hati-hati di jalan ya,” jawabnya seraya menoleh sebentar ke arahku dan memainkan kembali gitarnya. Aku berjalan ke arah pintu. Saat kubuka kenop pintunya….. TIDAK BISA DIBUKA!!

“DONGHAE-AH!! PINTUNYA TIDAK BISA DIBUKA!!!” teriakku panik. Dengan segera Donghae menaruh gitarnya dan berlari ke arahku. Ia mencoba untuk membuka kenop pintu, tapi nihil.

“Sepertinya dikunci dari luar,” kata Donghae setelah menghela nafas panjang.

“Eotteokhae?” tanyaku panik. Tampak Donghae yang sedang berpikir.

“Mungkin penjaga sekolah mengira tidak ada orang di dalam,” ujarnya seraya menendang pintunya.

“Ajjeosshi!! buka pintunya!!” teriakku panik seraya mendobrak-dobrak pintunya.

“Percuma, jam segini pasti dia sudah pulang.Hmmmm…. mungkin kita harus menginap di sini,” katanya putus asa.

“Mwo? Kita? menginap di sini? Michyeoseo??” ujarku kesal. Donghae hanya menatapku nanar. Dengan lemas aku berjalan ke arah lemari yang menghadap ke pintu, dan duduk bersantar lemari tersebut. Donghae mengikutiku dan duduk di sampingku.

“Eotteokhae?” gumamku seraya menatap nanar langit-langit ruangan ini. Tiba-tiba saja lampu ruangan itu mati.

“KYAAAAAA!!!!!!” teriakku. Sontak aku memeluk Donghae. Ia terkejut saat aku memeluknya.

“Ah.. mi… mi-mianhae. Aku sering kayak gini kalo tiba-tiba mati lampu,” ujarku seraya menundukkan kepalaku. Malu aku (__”)

“Oh. Haha.. Gwaenchana. Kau takut gelap?” tanya Donghae padaku.

“Ani, cuma kaget aja kalo tiba-tiba mati lampu,” jelasku.

“Kalau aku takut sekali dengan gelap,” ungkapnya.

“Ah, jinjja? Wah, ternyata seorang Donghae takut gelap juga ya? Haha..” candaku. Donghae hanya tertawa kecil saat mendengar candaanku. Manis sekali.

“Haha.. Tapi untung saja saat ini aku tidak sendirian. Kalau aku sendiri, bisa-bisa aku menangis semalaman,”kata Donghae. Tiba-tiba saja telingaku merasa panas saat mendengar perkataannya tadi. Tidak sendirian? Haish, lupakan. Pandanganku beralih ke kalung yang dikenakannya.

“Ehmm… Itu cincin kan? Dari pacarmu ya?” godaku seraya menunjuk cincin yang tergantung di kalungnya.

“Hahaha… Aku belum pernah pacaran sampai sekarang. Ini cincin pemberian eommaku. Saat appaku meninggal 2 tahun yang lalu, eommaku memberikan cincin ini. Ini cincin pemberian appaku untuk eommaku. Itulah alasannya kenapa aku selalu mencemaskan eommaku, karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki,” kenangnya. Aku mengerti sekarang, kenapa dulu dia mengatakan itu.

– flashback –

 

“Gomawo atas tumpangannya,” ucapku sambil membungkukkan badanku.

“Aigoo.. formal sekali kau. Biasa aja kalee. Ya sudah, aku pulang dulu. Pasti eomma sudah mencemaskanku di rumah. Annyeong!” kata Donghae.

“Wah, ternyata kau tipe anak yang patuh sama orangtua ya. Hehe..” candaku.

“Ani, bukannya begitu. Tapi karena hanya eommalah yang kumiliki saat ini. Mmm.. Annyeong!” ujarnya seraya menjalankan motornya.

“Ah.. ne.. hati-hati di jalan,” teriakku keras. “Apa maksud perkataannya tadi?” gumamku.

 

– flashback end –

 

Ternyata Donghae memiliki sisi lemah juga. Kulihat ada sesuatu yang mengalir dari matanya. Ya, airmata. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menyandarkan kepalanya ke pundakku.

“Kalau kau ada masalah, pakailah pundakku ini. Aku siap setiap saat,” ujarku seraya mengelus lembut kepalanya.

“Gomawo,” ucapnya terisak. Sekilas kulirik Donghae, sepertinya dia sudah terlelap. Wajahnya saat tertidur terlihat damai sekali meskipun matanya agak sembab. Kuselimuti Donghae dengan jaketnya. Entah kenapa hari ini aku merasa sangat lelah. Kusandarkan kepalaku di atas kepalanya dan tertidur *kayak di full house -kalo tau-*

 

– Donghae’s POV –

 

Aku tak bisa mengontrol emosiku. Selalu saja begini kalau sedang membicarakan appa. Tiba-tiba saja Hyemi menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Aku merasa semua kesedihanku hilang begitu saja saat bersandar di pundaknya.

“Kalau kau ada masalah, pakailah pundakku ini. Aku siap setiap saat,” ujarnya seraya mengelus lembut kepalaku. Memang benar, semua masalah yang kualami menghilang begitu saja saat aku bersandar di pundaknya.

“Gomawo,” ucapku terisak. Tanpa kusadari, aku tertidur di pundaknya.

 

– 11 p.m –

 

Aku terbangun dari tidurku. Kurasakan ada sesuatu di atas kepalaku. Ternyata Hyemi terlelap dengan kepalanya bersandar di kepalaku.

“Pasti dia tidak nyaman dengan posisi tidur seperti ini,” gumamku. Dengan hati-hati kupindahkan kepalanya ke pundakku, dan menyelimutinya dengan jaket yang entah sejak kapan menyelimutiku. “Pasti dari tadi dia juga kedinginan,” gumamku lagi seraya melihat ke jendela. Hujan lebat masih turun membasahi bumi. Dengan segera kugenggam tangannya yang dingin karena cuaca agar tidak kedinginan lagi.

“Hehm… aku tak bisa mengelaknya lagi. Jigeumbuteo saranghae, Hyemi-ah,” gumamku seraya mengecup keningnya. Akupun tertidur dengan kepalaku yang bersandar di kepalanya.

—————————————————————————————————————-

– 06.00 a.m, Seoul International High School –

 

– Author’s POV –

 

“Apa kau yakin mereka masih di sekolah?” tanya seseorang kepada yeojachingunya.

“Yap. Aku yakin sekali. Buktinya mereka sama-sama belum pulang. Hyukjae-ah, coba kau telpon lagi Donghae. Aku akan telpon Hyemi,” ujar yeojachingunya yang tak lain adalah sahabat Hyemi, Hanjae.

“Tidak diangkat. Hyemi gimana?” tanya Hyukjae yang dijawab dengan gelengan oleh Hanjae.

“Kalau ini aku benar-benar yakin mereka masih di sekolah! Tapi gimana masuknya?” tanya Hanjae seraya memandang halaman sekolah dari balik gerbang dengan tatapan kosong.

“Tenang saja,” ucapnya santai seraya menunjukkan kunci gerbang beserta kunci-kunci ruangan lainnya di dalam sekolah.

“Darimana kau dapatkan itu?” tanya Hanjae heran.

“Tadi malam aku ke rumah penjaga sekolah, trus pinjem deh kuncinya,” jawab Hyukjae.

“Wah, pintar juga kau, monkey,” puji Hanjae.

“Siapa dulu, namjachingunya Hanjae. Haha.. kajja!” ajak Hyukjae.

 

Semua ruangan di sekolah telah mereka masuki, tapi mereka tak menemukan keberadaan Donghae dan Hyemi. Tinggal 1 ruangan yang belum dimasuki Hyukjae dan Hanjae yang berada di ujung gedung sekolah. Mereka lalu membuka pintu ruangan yang tak lain adalah ruang musik.

“Tuh kan, apa kubilang,” kata Hanjae sambil menunjuk 2 orang yang sedang tertidur dengan tangan mereka yang bergandengan.

“Aih.. so sweet..” ujar Hanjae.

“Aku jadi gak tega bangunin mereka. Jagi, kita kayak gitu yuk,” ajak Hyukjae yang mendapat jitakan dari Hanjae.

“Ya! sejak kapan kau memanggilku jagi?” tanya Hanjae kesal.

“Lho, aku kan namjachingumu. Kenapa aku gak boleh manggil kamu jagi?” tanya Hyukjae innocent.

“Aku paling eneg denger panggilan itu,” ujar Hanjae seraya menjulurkan lidahnya seperti orang mau muntah.

“Trus apa? eommeonim?” tanya Hyukjae dengan nada kesal.

“Ya! Sebegitu tuakah diriku dimatamu??!!” tanya Hanjae dengan emosi.

Karena keributan yang mereka perbuat, tanpa mereka sadari Donghae dan Hyemi bangun dari tidur mereka.

 

– Hyemi’s POV –

 

Aku terbangun dari tidurku setelah mendengar keributan dari arah pintu. Aku merasakan ada sesuatu yang menyelimutiku. Dan juga aku tertidur di pundak Donghae. Sontak aku mengangkat kepalaku dari pundaknya. Rupanya Donghae juga terbangun. Kami bertatapan sejenak, mencoba mengumpulkan seluruh jiwa kami yang pergi. Lalu kami menoleh ke arah sumber keributan.

“Ngapain kalian ribut-ribut di sini?” tanya kami serempak.

“Kalian? Harusnya kami yang tanya begitu. Ngapain kalian di sini? Sampai tidur pun kalian bergandengan tangan. Apa yang kalian lakukan semalam?” tanya Hanjae bertubi-tubi. Hah? bergandengan tangan? Ya ampun, aku tak menyadari kalau Donghae menggenggam tanganku semalaman. Sontak aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Jadi tadi malam dia menyandarkan kepalaku di pundaknya, menyelimutiku dengan jaketnya, dan menggenggam tanganku? Pantas saja rasanya semalam sangat hangat meskipun di luar sedang hujan lebat.

“A.. aniyo.. Kami hanya terkunci di sini,” elakku sebelum mereka memikirkan hal yang macam-macam.

“Ne.. ne.. arasseo.. Untung hari ini hari Minggu. Lebih baik kalian cepat pulang, sebelum orangtua kalian semakin cemas menunggu kalian. Donghae, antar Hyemi pulang,” kata Hyukjae.

“Tanpa kau suruh pun aku juga akan mengantarnya. Hyemi, kajja!” ajak Donghae.

“Ah.. ne.. Hanjae, Hyukjae, anyyeong!” pamitku lalu berlari mengikuti Donghae.

 

—————————————————————————————————————-

 

Setelah kejadian itu, aku semakin dekat dengan Donghae. Dia sering menceritakan masalahnya dan bersandar di pundakku untuk menghilangkan seluruh masalahnya. Dan akupun menyadari, bahwa aku menyukainya. Ah, ani. Tapi cinta.

“Aku harus mengutarakan perasaanku padanya besok!” gumamku seraya berbaring di atas kasurku.

 

—————————————————————————————————————-

 

– Donghae’s POV –

 

“Apa kau benar-benar akan mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang itu?” tanya Hyukjae tidak percaya.

“Ya. Aku sudah memikirkannya baik-baik,” jawabku mantap.

“Kapan kau akan berangkat?” tanya Hyukjae serius.

“Besok jam 7 pagi. Bolehkah aku minta sesuatu padamu?” tanyaku.

“Tentu saja.Apa?” tanya Hyukjae.

“Mmm… bisakah kau tidak memberitahukannya pada Hyemi sampai waktu keberangkatanku? pintaku. Hyukjae mengkerutkan keningnya.

“Memangnya kenapa?” tanya Hyukjae bingung.

“Aku hanya tak ingin melihatnya sedih sebelum aku berangkat,” ungkapku.

“Hmmm.. baiklah,” jawab Hyukjae mengerti.

 

—————————————————————————————————————

 

– Hyemi’s POV –

 

Aku akan mengutarakan perasaanku hari ini. Tapi kenapa jam segini Donghae belum datang? Kupandangi jam dinding di kelas,  sudah jam 8. Akupun memberanikan diri untuk bertanya pada Hyukjae.

“Hyukjae, Donghae mana?” tanyaku.

“Mmm.. itu..,” jawab Hyukjae terbata-bata.

“Kenapa?” tanyaku sekali lagi.

“Kau tau kan di sekolah ini ada sistem pertukaran pelajar?” tanya Hyukjae. Aku mengangguk. Saat mendengar kata pertukaran pelajar, hatiku agak tidak tenang.

“Tahun ini, Donghae yang mengikutinya.. dan hari ini ia berangkat,” kata Hyukjae. Aku terkejut mendengar perkataannya tadi. Rasanya hatiku hancur berkeping-keping.

“….. Aku harus pergi,” kataku datar.

“Kau mau kemana?” cegahnya.

“Apa kau bodoh? Tentu saja menyusulnya!” teriakku padanya.

“Percuma Hyemi. Dia sudah berangkat tadi pagi,” ujarnya tak kalah kerasnya dengan teriakanku tadi.

“Kenapa…. kenapa kau tidak bilang padaku???” tanyaku terisak.

“Donghae yang menyuruhku. Dia tak ingin melihatmu sedih sebelum dia pergi. Mianhae, Hyemi,” kata Hyukjae menyesal. Tiba-tiba tangisanku meledak, rasanya jantungku berhenti berdetak.

 

—————————————————————————————————————-

 

– 4 years later at Incheon International Airport –

 

– Donghae’s POV –

 

Setelah lama menuntut ilmu di negara sakura, akhirnya aku bisa kembali lagi ke tanah airku. Hah, senangnya. Aku sangat merindukan eomma, teman-temanku, dan juga….. Hyemi.

Selama berada di Jepang, aku tak pernah mengetahui kabarnya. Bagaimana keadaannya sekarang?

“Lee Donghae!” panggil seseorang dari pintu kedatangan.

“Hyukjae-ah!” panggilku seraya berlari ke arahnya dan memeluknya. Selama 4 tahun  ini aku belum pernah bertemu dengannya. Kami hanya saling menelepon untuk menanyakan kabar masing-masing.

“Wah, kau tambah tampan saja,” puji Hyukjae seraya memukul pundakku.

“Haha.. bisa saja kau,” ujarku.

“Hmm… bagaimana kalau kita ke cafe langganan kita dulu?” tawar Hyukjae.

“Boleh,” jawabku mengiyakan.

 

—————————————————————————————————————-

 

“Bagaimana hubungan dengan Hanjae?” tanyaku mengawali pembicaraan.

“Baik-baik saja. Sebenarnya tadi dia mau ikut, tapi tiba-tiba dia mendapat tugas dari dosennya, jadi mungkin selesai nanti sore,” ujarnya kecewa.

“Wah, ternyata awet juga kalian. Haha,” candaku.

“Haha.. bisa saja kau,” kata Hyukjae.

“Ehmm… bagaimana dengan Hyemi?” tanyaku lagi.

“Mmm… semenjak hari keberangkatanmu, dia benar-benar tidak mempunyai semangat hidup. Sekarang dia seperti orang rapuh yang tidak memiliki tujuan hidup. Setiap harinya hanya melukis dan melukis,” ujar Hyukjae seraya menghela nafas panjang. Rasanya hatiku sakit sekali saat mendengarnya.

“Apa kau tau dimana dia sekarang?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan oleh Hyukjae.

“Bisakah kau mengantarku ke sana?” pintaku pada Hyukjae.

“Hmm… baiklah,” jawabnya.

 

—————————————————————————————————————–

 

Hyukjae membawaku ke taman dekat rumah Hyemi. Aku melihatnya dari kejauhan, gadis yang kucintai, sedang duduk dan melukis di bawah pohon yang rindang. Dia terlihat kurus, dan tak ada lagi senyuman yang terukir di wajahnya.

“Seperti inilah keadaannya sekarang,” kata Hyukjae lemas. Saat melihat keadaannya, rasanya hatiku benar-benar hancur.

“Mmm… Hyukjae, bisakah kau membantuku?” tanyaku memohon.

“Tentu saja. Apapun akan kulakukan,” jawab Hyukjae penuh semangat.

“Malam ini, aku akan mengutarakan perasaanku pada Hyemi. Bisakah kau membawanya ke taman ini?” pintaku.

“Mmm.. baiklah. Aku dan Hanjae akan membawanya,” jawabnya.

 

—————————————————————————————————————–

 

– Garden –

– Hyemi’s POV –

Ting….Tong….

Bel rumahku berbunyi. Dengan malas aku membuka pintu rumahku.

“Hyemi-ah!” teriak Hanjae dan Hyukjae serempak.

“Ada apa kalian ke sini?” tanyaku datar.

“Ah, kau ini, selalu saja tidak bersemangat. Semangat dong!” seru Hanjae padaku. Memang, semenjak kepergiannya, aku sama sekali tak mempunyai semangat hidup. Mungkin lebih tepatnya seperti orang yang menunggu ajalnya.

“Ada apa?” tanyaku lagi datar.

“Hmm… ikut kami,” ajak Hyukjae seraya menarik tanganku.

“Mau kemana kita?” tanyaku lemas.

“Ikut sajalah. Sekali-kali kau keluar malam, agar tidak sumpek di dalam rumah terus,” ujar Hanjae.

Mereka membawaku ke taman dan mempersilahkanku duduk di salah satu bangku di taman.

“Tunggu di sini ya, jangan kemana-mana,” kata Hanjae dan mengajak Hyukjae untuk pergi meninggalkanku. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?

Tiba-tiba saja alunan musik terdengar. Musik ini tidak asing. “Ini kan, lagu…” gumamku.

 

    Love U more… Love U more… Love U more..

    Nae mam soge inneun neol

    Love U more… Love U more.. Love U more..

    Nae sumgyeori nae mamsoge inneun geol

Tiba-tiba saja rangkaian lampu yang membentuk hati di rumput menyala. Seorang namja berdiri di depanku seraya memainkan gitarnya. Dia… Lee Donghae?

 

Nopeun haneul araeui jageun jeom hanaga sarangeul noraehane yeah

Yeojeonhi geudae eomneun naui moseup nae yeopui geurimjaman bangine

Honjamanui saenggangmaneuro I sigan chaeul su eopkko

Geudaeui misoga gaseum sok (gipi) gadeuk chaeuneun geol

 

Geudae mam sogeneun sarangi eomneun geol

Gidarim soge geudaewa geudaewa

Naui mam sogeneun modeun ge sarangin geol

Ne sumgyeori nae mamsoge inneungeol

 

Nae mam soge sumswineun neol yeongwonhi I Love U

Eonjena geudaereul geuriwohaneun geol

Geu maneun naltteurui gieoktteulkkajido

Nan ara neo mani sarangin geol

Naui mam sogeneun yeongweonhi neoppoonin geol

Nal barabwa joon geu nari oneun nal

Geudae mam sogeneun modeun ge sarangin geol

Ni sumgyeori nae mam soge inneun geol

 

Love U More, Love U More, Love U More

Nae mam soge inneun neol

Love U More, Love U More

Ne sumgyeori nae mam soge inneun geol

Tiba-tiba saja air mataku mengalir. Orang yang selama ini kurindukan, sekarang ada di depan mataku. Kulihat Donghae berlutut di depanku, dan menggenggam tanganku erat.

“Hyemi-ah, saranghaeyo. Would you be my girl?” ungkapnya. Aku benar-benar tak bisa menahan tangisanku. Aku masih tak bisa mempercayai hal ini. Setelah menunggu selama 4 tahun, akhirnya ia kembali.

“Yes… I do..” jawabku terisak. Dia mengambil cincin di kalungnya dan memakaikannya ke jari manisku.

“Ini pemberian dari appa untuk eomma yang sangat dicintainya. Sekarang, aku akan memberikan cincin ini untuk gadis yang sangat kucintai,” ucapnya setelah memakaikan cincin ke jari manisku. Ia segera memelukku dengan erat. Tangisanku semakin meledak. Bukan tangisan kesedian, tetapi tangisan kegembiraan. Kueratkan pelukanku.

“Bogoshipeo…,” bisiknya.

“Na do… Nan neomu bogoshipeo,” jawabku.

 

You’re my true love. Love U more, Lee Donghae…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s