This is my world…

FF|Goodbye Days|One Shoot|

AUTHOR: Quincy

CAST:

Lee Donghae aka Donghae

Min Junghee aka Junghee

Park Jungsoo aka Leeteuk

GENRE:

Sad Drama

RATED: PG-15

 

 

BIIP BIIP

 

Suara alarm terdengar dari sebuah kamar yang berada di lantai 2. Seorang gadis yang sedang tertidur lelap membuka matanya perlahan kemudian mematikan alarmnya. Waktu menunjukkan waktu tepat pukul 2pm. Ia beranjak dari tempat tidur dan langsung menghadap ke jendela yang tertutupi plastik di tiap bagian jendela.

 

Ia memandangi pemandangan dari atas kamarnya tersebut. Yang ia lihat bukanlah pemandangan seperti pegunungan atau semacamnya. Tetapi ia hanya memandangi sebuah pemberhentian bus atau biasa dibilang terminal yang berada tepat di seberang rumahnya. Ia tersenyum menunggu sesuatu yang akan mucul atau terjadi di sana.

 

Setelah menunggu setengah jam datang seorang pemuda yang duduk di bangku perberhentia bus itu. Sang Gadis menatapi Pria tersebut dengan penuh makna. Gadis ini bernama Min JungHee. JungHee menyukai pria tersebut, bahkan ia tidak mengetahui nama pria tersebut.

 

Setelah hampir pukul 4pm, teman-teman pria tersebut datang dan mengajak pria tersebut melanjutkan perjalanan. JungHee merasa matahari akan mulai terbit, ia kembali tidur dan tak lupa menyalakan alarm.

 

JungHee terbangun pada pukul 11pm. Kakaknya sudah pulang dari sekolahnya, namanya LeeTeuk. “JungHee, kau sudah bangun rupanya? Ayo makan. Omma, Appa menunggu di bawah,” kata LeeTeuk. “Ne,” sahut JungHee. Ia kemudian bersama kakaknya itu turun menuju ruang makan dan makan bersama.

 

Selesai makan, LeeTeuk mengajak JungHee berkeliling di sekitar komplek menaiki sepeda. JungHee setuju saja karena ia memang senang dapat berjalan-jalan walau hanya di malam hari. JungHee sangat senang bermain gitar, ia membawa gitarnya tersebut. Sesampai di taman komplek, JungHee bermain gitar sambil bernyanyi. LeeTeuk mendengarkan dengan senang.

 

Tiba-tiba permain JungHee terhenti. Ia terkunci dalam satu padangan yang berada di seberang jalan. Itu pria yang selama ini sering ia lihat di terminal. LeeTeuk sang kakak menatap bingung saengnya tersebut. JungHee langsung berlari tanpa menghiraukan panggilan sang kakak.

 

LeeTeuk mengejar JungHee. JungHee terus mencari bayangan pria tersebut. Kapan lagi ia bisa berkenalan dengan pria tersebut kalau tidak saat ini? JungHee terus mencari keberadaan pria itu. Sampai akhirnya ia melihat pria itu sedang menyebrangi lintas kereta api. Saking bersemangatnya JungHee berlari, ia tidak dapat menghentikan langkah larinya apalagi di jalanan menurun ini. Dia malah menabrak pria tersebut sehingga pria itu jatuh.

 

“Apa-apa—“ saat hendak memprotes, omongan pria itu dipotong JungHee. “Mianhae, hh, aku Cuma mau bilang aku hh, meyukaimu, hh” ujar JungHee terengah-engah karena berlari. “Menyukaiku? Jangan bercanda.” Sahut pria itu. Setelah nafas JungHee teratur dia menjawab, “Aku tidak bercanda!” ucap JungHee tegas. Mendengar perkataan tegas tersebut, pria itu terdiam sejenak. “Bagaimana bisa? Aku saja tidak mengenalmu.” Kata pria itu. JungHee tersenyum.

 

“JungHee imnida, aku sering melihatmu menunggu di terminal,” kata JungHee masih tersenyum. “DongHae imnida, ohh.” BIIP BIIP, alarm jam JungHee berbunyi. JungHee melihat jamnya, “Ah, aku harus segera pergi. Sampai jumpa dan salam kenal!” ujar JungHee sambil melambaikan tangan berlari menjauh. “Dasar orang aneh,” gumam DongHae.

 

Esoknya. Seperti biasa JungHee baru bangun pada malam hari. Ia keluar dari kamarnya dan membawa gitar menuju terminal. Ia mengingat saat DongHae duduk di bangku itu. Ia bermain gitar di sana, tak disangka DongHae datang membawa motornya. DongHae agak kaget melihat JungHee. “Kau sedang apa di sini?” tanyanya. JungHee berhenti bermain, “Kau sudah datang ya? Aku hanya mencari udara segar.” Jawab JungHee. DongHae mengangguk membeli minuman energi di mesin otomatis.

 

Mereka kembali diam. Sama-sama tidak tahu apa yang harus di bicarakan. DongHae menawarkan minuman energi tersebut untuk JungHee. JungHee mengambil dan meminumnya. “Gomawo”, lagi-lagi alarm jam JungHee berbunyi. “Kau sudah mau pergi?” tanya DongHae tiba-tiba. “Ya, aku pergi. Annyeong.”

 

Setelah sering bertemu di malam hari, entah mengapa DongHae merasa ia makin senang berada di dekat JungHee. JungHee juga banyak mendapat informasi dari kakaknya yang normal dan bisa bersekolah pagi. Ternyata DongHae satu sekolah dengan LeeTeuk, hanya saja DongHae tidak tahu. Malamnya, JungHee sudah janjian dengan DongHae.

 

DongHae mengajak JungHee keliling pertokoan sekitar situ. DongHae juga menyuruh JungHee untuk bernyanyi di depan semua orang yang masih lewat di sana. Nyanyian JungHee mampu menarik perhatian banyak orang. Lagu yang sangat JungHee sukai yaitu Goodbye Days. DongHae menatap JungHee begitu dalam. Ia berpikir mengapa tidak dari dulu saja ia mengenal JungHee.

 

Selesai menyanyi DongHae mengajak JungHee ke suatu tempat. Tempat yang begitu indah dilihatsaat malam hari. JungHee terpesona dengan pemandanga tersebut. Tak terasa hari sudah mendekati subuh. JungHee melihat jamnya, sebentar lagi matahari terbit. “DongHae, aku harus pulang sekarang juga,” JungHee tampak panik, DongHae menahan tangannya, “Kenapa? Diamlah sebentar saja di sini bersamaku,” kata DongHae. “Aku ingin, tapi maaf. Aku harus benar-benar pulang sekarang,” kata JungHee berusaha melepaskan tangannya.

 

Gawat, matahari sebentar lagi akan naik dan berada di ufuk timur. JungHee berlari dengan cepat, apapun yang terjadi ia haru sudah berada di rumah sebelum sinar matahari mengenai tubuhnya. DongHae mengejar JungHee menaiki motor. Saat matahari sudah naik, JungHee berhasil masuk dalam rumah. Ia terkena sedikit matahari. Tok tok tok. DongHae mengetuk pintu rumah JungHee. JungHee tidak bisa keluar sekarang. DongHae bingung dengan kelakuan JungHee sekarang. “Baiklah, ini gitarmu aku taruh di sini,” ujar DongHae beranjak keluar.

 

 

DongHae melihat LeeTeuk menghampiriya dengan nafas tersengal-sengal begitu pula orang tua JungHee. “DongHae, di mana JungHee??!” tanyanya sedikit keras. “Dia sudah di dalam, ada apa?” tanya DongHae balik. BUGH! LeeTeuk memukul DongHae keras.

 

BUGH! LeeTeuk memukul DongHae keras. “Dasar bodoh! Kau ini mestinya tahu kalau JungHee tidak boleh kena sinar matahari sedikitpun!!” bentak LeeTeuk kemudian masuk. Orangtuanya juga.

 

DongHae terdiam terpaku mendengar perkataan LeeTeuk. “Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku JungHee?” gumamnya kemudian pulang. Di dalam rumah orang tua JungHee melarang JungHee untuk bertemu dengan DongHae lagi karena insiden tadi. JungHee hanya mengangguk karena ia sudah merasa lemas saat sinar matahari mengenai sedikit tubuhnya. Orangtuanya mengajaknya ke rumah sakit biasanya.

 

Saat kembali di rumah, JungHee tampak seperti kehilangan semangat hidupnya karena tidak dibolehkan bertemu DongHae. Saat makanpun ia tidak berkata apa-apa dan hanya makan sekedar. Orang tua JungHee pun memikirkan kembali apa mereka harus membiarkan JungHee bertemu DongHae lagi atau tetap seperti ini.

 

Esoknya, tetap tidak ada perubahan terhadap sifat JungHee. Saat makan, “Ajumha, ini ditaruh di mana?” suara yang tak asing bagi JungHee. Ia sedikit tersentak menyadari DongHae ada di rumahnya. Ia kembali ke kamarnya karena tak mau DongHae melihatnya yang sedang berantakan. Ia kembali ke ruang makan dengan pakaian lebih rapi. Orangtuanya tersenyum melihat tingkah JungHee.

 

Setelah makan, JungHee dibolehkan orangtuanya untuk ikut jalan-jalan bersama DongHae. Asal DongHae berjanji akan membawanya kembali sebelum matahari terbit. DongHae mengajak JungHee jalan-jalan sambil mengobrol. Jalanan begitu sepi dan nyaman. DongHae berhenti sejenak, “Waeyo?” tanya JungHee.

“Ada yang ingin aku sampaikan padamu,”

“Apa?”

“Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul di hatiku. Tapi, aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku mencintaimu,”

“M..maksud…mu?”

“Saranghaeyo,”

“Nado”

DongHae memeluk JungHee erat, kemudian saling mendekatkan wajah satu sama lain. Bibir mereka bertautan lembut. Seakan tidak ingin dipisahkan. Cinta yang begitu mendalam melekat pada hati masing-masing.

 

Esoknya, DongHae lagi-lagi ke rumah JungHee. Ia memberitahu JungHee untuk ikut audisi menyanyi. “Aku yakin kamu pasti bisa lolos dari audisi ini,” ujar DongHae yakin. “Baiklah, aku akan ikut audisi ini,” sahut JungHee tersenyum walau butuh pertimbangan yang cukup lama.

 

DongHae izin pulang, LeeTeuk langsung memasuki kamar JungHee. “Kamu benar-benar mau ikut audisi?” JungHee mengangguk mantap. “Coba mainkan aku satu lagu,” pinta LeeTeuk. JungHee mengikuti kemauannya. Ia bermain, awalnya bagus. Tapi, lama kelamaan suara gitar tidak berbentuk sebagai aliran musik yang bernada indah. Malah terdengar seperti suara orang yang bermain asal.

 

‘Tidak mungkin,’ JungHee melihat tangannya, tangannya sulit digerakkan. Hal ini membuatnya depresi, ia langsung begitu menyadari ia tidak bisa bermain gitar lagi. Akhirnya JungHee di bawah ke rumah sakit malam harinya. Semua ikut mengantarnya ke rumah sakit. Setelah di periksa, JungHee beristirahat di rumah sakit untuk sementara. Ia tahu tidak mungkin ia dapat bertahan lama.

 

Di luar, dua orang pria setengah baya membicarakan sesuatu dengan serius. Mereka adalah Appa dan Dokter khusus JungHee. Terlihat di sana Appa JungHee menangis. Ia tidak kuat menahan sedih akan berita bahwa anaknya tak lama lagi akan meninggalkannya untuk selamanya.

 

Malam itu juga, JungHee minta diajak ke ruang rekaman. Ia menyanyi lagu buatanya yaitu Goodbye Days. Suara JungHee begitu jernih saat rekaman. Semua menatap JungHee yang sedang rekaman dengan berbagai makna. Sedih, terharu, bangga, cinta, dll. Rekaman selesai, hasil rekaman sudah dimiliki tiap keluarga.

 

Esoknya, JungHee minta ikut ke pantai melihat sang kekasih alias DongHae yang sedang bermain surfing di siang hari. Ia harus menggunakan pakaian anti sinar matahari yang sejujurnya malas ia gunakan. JungHee melambaikan tangan dan tersenyum “DongHae~ aku benar –benar mencintaimu,” ucapnya saat DongHae berjalan ke arahnya. JungHee juga berjalan ke arah DongHae dengan susah payah.

 

Ia hampir terjatuh, itu membuat DongHae panik. Saat DongHae menyadari bahwa JungHee tidak jatuh, JungHee tertawa kecil. “Hehe, aku bercanda. Aku tidak akan jatuh.” Ujarnya tersenyum manis. DongHae tersenyum miris mengingat waktu hidup kekasihnya tidak akan lama lagi.

 

Esoknya, JungHee meninggal karena seluruh sel tubuhnya telah mati. Saat pemakaman, air mata mengalir tak terbendung di wajah Appa, Umma, LeeTeuk, dan DongHae. Meskipun begitu seulas senyum terukir di setiap wajah mereka. Setelah ia dimakamkan, DongHae, LeeTeuk, orangtuanya selalu mendengarkan lagu Goodbye Days yang diyanyikan JungHee. “Semoga kamu bahagia selamanya di sana JungHee” gumam DongHae tersenyum menatap cerahnya langit.

 

THE END

Coment please^__________^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s