This is my world…

TROUBLE OF LIFE PART 3 (Friendship of KyuHae)

Author : Quincy

Cast:

Lee Donghae aka Donghae

Cho Kyuhyun aka Kyuhyun

Other Cast:

Eunhyuk

Yesung

Rated: G

Genre: Frienship,Sad Drama

Review :

Chapter 1

Chapter 2

______________________________________________________________

Sesampai di rumah sakit.

Dengan cepat KyuHyun langsung dibawa ke ruang ICU untuk diperiksa. Baru saja DongHae ingin ikut masuk tapi dihadang suster. “Maaf, tuan tak boleh masuk. Mohon tunggu di luar.” Kata suster sambil menutup pintu ruang ICU.

“Aigo~ bagaimana ini? KyuHyun-ah, mianhae.” Kata DongHae yang menangis. Ia tak bisa diam menunggu hasil pemeriksaan. Ia terus mondar-mandir dan bolak-balik. Ia masih terus menangis.

Beberapa menit kemudian.

Dokter keluar dari ruang ICU. DongHae dengan cepat menghampirinya. “Dok, bagaimana keadaan KyuHyun?” tanya DongHae. “Penyakit KyuHyun-ssi kambuh lagi akibat dia berteriak terlalu keras atau amarah yang ditahan dan meluap-luap.” Jelas Dokter. “Nde? Penyakit? Penyakit apa?” tanya DongHae cemas. “Anda belum mengetahui penyakitnya?” tanya Dokter. DongHae-pun mengangguk.

“KyuHyun-ssi punya penyakit lemah jantung. Jika ia berteriak terlalu keras atau kecapaian dan yang tadi sudah saya sebutkan, maka penyakitnya akan kambuh lagi.” Jelas Dokter. DEG. DongHae kaget dengan hal tersebut.

‘Jadi?’

‘Yang menyebabkan dia pingsan..’

‘Itu AKU?!’

Pikir DongHae.

“Dok, apa KyuHyun sudah sadar?” tanya DongHae. “Sudah, sudah. Dia sudah bisa dijenguk.” Kata Dokter kemudian menambahkan, “Saya permisi dulu.” “Ah, ne.” DongHae pun langsung masuk ke dalam.

DongHae melihat KyuHyun terbaring lemah di atas ranjang. KyuHyun yang melihatnya berusaha untuk duduk. “KYUHYUN-AH! Mianhae!!” teriak DongHae langsung memeluk KyuHyun.

“Tidak apa-apa. Penyakitku memang seperti ini.” kata KyuHyun masih dengan suara pelan. “Tidak! Kalau bukan aku yang membuatmu marah, pasti tidak akan begini!” kata DongHae terisak. “DongHae ya! Aku kan sudah bilang tak apa-apa. Aku yang memaksamu kan?!” tanya KyuHyun. “Tapi..” DongHae memutuskan perkataannya dan melepaskan pelukannya kemudian dia duduk di sebelah KyuHyun.

“Kau sudah memberitahukan orang tuamu?” tanya DongHae. Wajah KyuHyun berubah menjadi sedih mendengar kata ‘orang tua’. DongHae sedikit kaget melihat perubahan wajah KyuHyun. Tapi, dengan cepat KyuHyun tersenyum masam dan berkata, “Mereka tak akan peduli denganku.” DongHae terkaget mendengar perkataan tersebut. “Apa maksudmu?” tanya DongHae. KyuHyun terdiam sejenak. “Ah, maaf kalau kau tak mau cerita.” Sambung DongHae kemudian.

“Ani. Gwenchannayo. Aku akan cerita.” Kata KyuHyun sambil tersenyum masam. DongHae hanya diam. “Orang tuaku tidak peduli denganku bahkan penyakitku. Mereka hanya memikirkan perusahaan dan perusahaan. Makanya aku kesal saat kau bilang aku pindah ke asrama menjadi mata-mata. Aku bosan berada di rumah besar namun tak ada orang yang bisa kuajak ngobrol. Sedangkan pelayanku hanya menjalankan tugasnya.” Jelas KyuHyun panjang lebar.

“KyuHyun-ah, mianhae. Jeongmal mianhae.” Kata DongHae. KyuHyun memaksakan senyumnya. Ia juga berusaha menahan tangisnya. Sedangkan DongHae sudah menangis mendengar ceritanya. “Aku bersyukur bisa mendapat teman lagi.” Jelas KyuHyun. “Sekarang, apa kau mau bercerita padaku?” tanya KyuHyun.

“Ne. Kau sudah menceritakan privasimu padaku.” Kata DongHae. Mulailah DongHae bercerita pada KyuHyun. Saat bercerita DongHae menangis lagi. Ia terisak. KyuHyun-pun juga menangis mendengar cerita DongHae. Ia memeluk DongHae untuk menenangkannya. “DongHae-ah, ouljima.” Kata KyuHyun.

Beberapa menit setelah hening.

DongHae dan KyuHyun sudah tak menangis lagi. “KyuHyun,” panggil DongHae memecahkan keheningan. “Nde?” tanya KyuHyun. “Sebenarnya yang membuatku marah tadi bukan masa laluku,” jelas DongHae. “Nde? Lalu?” tanya KyuHyun. “Sebenarnya, aku sedang kesal karena masalah pekerjaanku.” Kata DongHae. “Masalah apa?” tanya KyuHyun.

“Sepertinya ada seseorang yang menjebakku. Dia sengaja merusak barang di gudang mini market yang kubersihkan. Sekarang aku harus mengganti biaya semua barang-barang yang rusak itu. Kau tau kan ekonomiku seperti apa?” jelas DongHae. KyuHyun mengangguk lalu berkata, “Memangnya berapa yang kau perlu?”

“Mollayo,” DongHae menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mengambil Hpnya yang ada di kantong bajunya. “Hyung, mianhae. Aku mau tanya berapa biaya yang aku perlu untuk membayar semua yang rusak itu?” tanya DongHae. Mata DongHae mendadak membulat. Kemudian ia langsung menambahkan. “Arassoyo,” kata DongHae sambil menaruh Hpnya kembali ke alamnya.

“Bagaimana? Berapa?” tanya KyuHyun. “Ti..ti..ga..ju..ta won,” kata DongHae terbata-bata karena kaget. “MWO?!” teriak KyuHyun kaget. “Sebanyak itu?” tanya KyuHyun sambil mengecilkan volume suaranya. DongHae mengangguk, kemudian menunduk. “Kau punya tabungan?” tanya KyuHyun. DongHae mengangguk.

“Bagaimana kalau kau pakai setengah tabunganmu dan setengah lagi aku yang bantu?” tanya KyuHyun. “Tapi, aku tidak mau merepotkanmu.” Kata DongHae. “Gwenchannayo,” kata KyuHyun. “Lalu yang membiayai rumah sakit?” tanya DongHae. “Aku bisa bilang pada Dokter untuk menelpon Appa-ku dan memintanya untuk membayar semua ini.” kata KyuHyun.

“Tapi—“ “Sudah! Tak apa-apa! Di rumahku masih ada uang yang aku simpan.” Kata KyuHyun memotong perkataan DongHae. “Memangnya rumahmu di mana?” tanya DongHae. “Di Nohwon,” ujar KyuHyun. “Lumayan dekat dari sini. Kapan kau mau ambil? Tapi bener ikhlas nih?” tanya DongHae memastikan. “Yup! Kau juga harus ikut denganku ke Nohwon, OK?” tanya KyuHyun. “Ara” jawab DongHae.

Esoknya.

KyuHyun sudah diperbolehkan pulang. Saat itu juga KyuHyun da DongHae berangkat menuju Nohwon. Mereka berjalan menuju halte bus.  “Kenapa naik bus? Kau tak punya mobil sendiri?” tanya DongHae. “Kau ini bodoh atau gimana sih? Aku kan udah bilang kalau aku tak mau memakai barang dari harta orang tuaku!” kata KyuHyun sambil duduk di tempat menunggu.

“Aku kira kita akan naik mobil.” Kata DongHae ikut duduk di sebelah KyuHyun. “Tunggu dulu! Bagaimana dengan sekolah? Kenapa aku malah lupa?!” tanya KyuHyun memukul kepalanya sendiri. “Soal itu? Tenang aja, aku udah ngirim surat izin.” Kata DongHae. “Iya KAMU! Aku?” tanyanya. “Kau juga sudah.” Kata DongHae tenang. “Sudah? Kapan?” tanya KyuHyun bingung.

“Aku yang buat.” Kata DongHae. “Oo, gomawo.” Kata KyuHyun.

CKIIT, bus datang. Mereka langsung masuk ke dalam bus.

Selang  1 jam.

Mereka berdua sampai juga di Nohwon, kampung halaman KyuHyun. “Haah, aku rindu tempat ini,” kata KyuHyun sambil merentangkan tangannya. “Wah, tempat yang indah,” kata DongHae sambil melihat sekeliling. “Ayo, kalau dari sini jalan kaki cukup untuk sampai di rumahku,” kata KyuHyun menarik tangan DongHae. DongHae hanya mengikutinya. Setelah berjalan sekitar 400 m jauhnya <itu bukannya jarak lari?> mereka sampai di sebuah rumah mewah nan megah.

“WUAH,” DongHae terpana melihat rumah yang megah nan mewah itu. “Ayo masuk,” ajak KyuHyun. Mereka berduapun masuk. Mereka disambut oleh para pelayan. ‘Selamat datang Tuan’ itulah kata-kata yang diucapkan para pelayan jika berhadapan dengan KyuHyun. Saat berjalan menuju ruang keluarga, KyuHyun kaget melihat ayah dan ibunya yang sedang asyik ngobrol berdua.

Tak sengaja ayah KyuHyun melihatnya dan juga DongHae. “Appa? Omma?” Ayah KyuHyun kemudian memalingkan wajahnya dan melanjutkan pembicaraan.

‘Sepertinya mereka membicarakan perusahaan.’

‘Karena itu aku diKACANGIN!’

Pikir KyuHyun.

DongHae merasa kasian terhadap KyuHyun yang diperlakukan seperti itu. “Ayo, kita ke atas.” Kata KyuHyun. DongHae-pun mengikutinya. Sekilas DongHae melirik ayah dan ibu KyuHyun. Mereka tampak tak peduli dengan kedatangan anaknya sendiri.

Mereka berdua pun sampai di atas, yaitu kamar KyuHyun. DongHae langsung duduk diatas ranjang, dan bertanya, “KyuHyun-ah, apa kau bisa tenang diperlakukan seperti itu?” KyuHyun terdiam sejenak, kemudian ia menghela nafas dan berkata, “Bukankah aku bilang bahwa mereka lebih mementingkan perusahaan?” KyuHyun berjalan menuju lemari baju tempat ia menyimpan uang.

“Tapi itu keterlaluan!” kata DongHae. KyuHyun menoleh, “Memang.” Ia menghela nafas kemudian menambahkan, “Jika mereka tak peduli aku juga tak peduli!” kata KyuHyun tegas. Ia kemudian mengambil amplop yang berisi beberapa cek dan uang. Ia kemudian memberikannya pada DongHae.

“Tuh!” kata KyuHyun sembari melepar amplop tersebut. DongHae menangkapnya dengan baik. Ia kemudian membuka amplop tersebut. Ia menganga melihat isi amplop itu. “Waaa! Banyak sekali!” seru DongHae. “Itu Cuma simpananku.” Kata KyuHyun menutup lemari. “Kalau gitu kita pulang sekarang.” Ajak KyuHyun. “Eh? Sekarang?” tanyanya. “NGGAK! TAHUN DEPAN! Ya iyalah sekarang!” kata KyuHyun menambahkan. “Oo, ya udah.” Kata DongHae sambil memasukkan amplop tersebut ke dalam tas.

Mereka berdua-pun menuruni tangga. Lagi-lagi KyuHyun bertemu muka dengan Appa-nya yang akan berangkat kerja. Sedangkan Omma-nya sudah berangkat sejak tadi. Appa KyuHyun membuang muka dan mengacuhkannya. DongHae mulai kesal. “Ajussi! Maaf, kalau saya lancang. Tapi sebagai orang tua, Anda keterlaluan!” kata DongHae lalu menarik KyuHyun keluar dari rumah tersebut. Appa KyuHyun hanya diam saja.

“UGH! Appa-mu itu menyebalkan sekali!” teriak DongHae kesal. “Sudahlah, biarkan dia berkembang,” kata KyuHyun. “Apa maksudmu?” tanya DongHae bingung. “Ah, biar saja dia. Aku sudah tak peduli lagi!” kata KyuHyun yang memaksakan senyumnya. “Huh, kau BOHONG!” kata DongHae mencubit pipi KyuHyun. “YA!” teriak KyuHyun memegang pipinya yang dicubit DongHae.

“Hahaha, siapa suruh maksa senyum!” kata DongHae berlari. KyuHyun lalu mengejarnya, dan terjadilah sesi kejar mengejar. “YA! LEE DONGHAE!” teriak KyuHyun sambil mengejar DongHae. Sampailah mereka pada halte bus tepat pada saat bus sampai. “Haah haah,” nafas DongHae dan KyuHyun terengah-engah akibat lari-larian. DongHae yang ingat akan penyakit KyuHyun langsung menoleh. “Ya! KyuHyunie! Bagaimana dengan penyakitmu!? Kau baik baik saja kan?” tanya DongHae yang masih ngos-ngosan. Tampak KyuHyun sedang memegang dadanya berusaha mengatur nafas.

“N..ne,” kata KyuHyun yang pernafasannya mulai membaik. Mereka berdua pun mencari tempat duduk. Selang berapa menit, DongHae tiba-tiba berteriak. “AH!” “Waeyo?” tanya KyuHyun. “Kita jalan-jalan dulu yuk! Ini pertama kalinya aku ke Nohwon. Ada cafe yang pernah aku dengar di sini. Kalau nggak salah cafe itu memberikan suguhan dengan pentas dance atau musik.” Jelas DongHae. KyuHyun berpikir sejenak. “Ah! Aku ingat. Itu Shappire Cafe. Di dekat sini kok.” Kata KyuHyun.

Mereka berduapun nggak jadi balik ke Seoul. Mereka pergi ke Shappire Cafe. Tempatnya bernuansa Shappire dan hip hop. Di sana ada beberapa boyband yang sedang tampil seperti SHINee dengan lagu mereka Ring Ding Dong. DongHae melihat dengan ‘wah’ tempat tersebut. “Para pengunjung! Selamat datang! Kita akan memasuki saat yang ditunggu-tunggu! Yaitu…pertunjukan dance dari ahli dance kita LEE HYUK JAE!!” kata pembawa acara mempersilahkan.

“Lee Hyuk Jae?” gumam DongHae. “Jinjjayo?” tanyanya pada diri sendiri. “Waeyo, DongHae-ah?” tanya KyuHyun. Lee Hyuk Jae yang disebutkan oleh pembawa acara keluar dengan style hip hop nya. “EUNHYUK?” teriak DongHae kaget. Tapi, karena suara musiknya yang terlalu keras, suara DongHae hilang bagai ditelan bumi.

EunHyuk menari dengan sangat baik di atas panggung. Dia juga tak lupa mengeluarkan beat box dan rap. Selang 5 menit selesai sudah pertunjukan dari EunHyuk. Semua penonton berdiri dan bertepuk tangan alias Standing Applause. DongHae yang udah gatel pingin nge-dance langsung naik ke atas panggung begitu saja.

“YA!” teriak EunHyuk melihat ketidaksopanan DongHae. EunHyuk sepertinya tak sadar kalau itu Lee DongHae sahabat baiknya. DongHae tak peduli dengan protesan EunHyuk. Ia memulai dance-nya. Ia melakukan split roundnya yang makin hari makin membaik. Semua terdiam terpana terpesona dengan dance DongHae. EunHyuk juga mengamati cara DongHae nge-dance.

‘Split round?’

‘Ini mirip dengan yang dilakukan DongHae,’

‘Tidak hanya mirip!’

‘Terlalu persis! Jangan-jangan..’

Pikir EunHyuk.

BANG! DongHae akhir. Kemudian ia memanggil KyuHyun untuk naik. “KyuHyun-ah! Naik!” panggil DongHae. KyuHyun hanya bisa naik. DongHae lalu membisikkan KyuHyun. Mereka-pun mulai menyanyikan lagu ‘Marry U’ dari Super Junior. KyuHyun awalnya kaget darimana kalau DongHae tahu ia bisa bernyanyi. KyuHyun dengan suara bass yang khas, dan juga DongHae dengan cara nge-Rap nya yang khas membuat semua bertepuk tangan dengan riuh. Standing Applause terhebat yang pernah dilihat EunHyuk.

DongHae berbalik melihat EunHyuk. “Ya! Hyukkie! Apa kabar?” tanya DongHae mengulurkan tangannya. “DongHae?” tanyanya memastikan. “Apa kabar? Dance mu makin hari makin keren!” katanya. Tiba-tiba pembawa acara langsung menyela. “Yak! Ini dia pengunjung spontan kita! Ayo ke belakang panggung,” ajak pembawa acara. KyuHyun kemudian mendekati DongHae dan berbisik, “Ya! Darimana kau tahu aku bisa menyanyi?” DongHae tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Nanti kuceritakan” katanya.

“Silahkan duduk,” kata pembawa acara. Mereka berdua duduk disusul dengan EunHyuk dan pembawa acara yang duduk. “Annyeonghaseyo, Kim Jong Woon imnida. Kalian bisa memanggil saya YeSung. Saya manager di sini,” sapa YeSung. “Annyeonghaseyo, Lee Hyuk Jae imnida. Biasa dipanggil EunHyuk.” Kata EunHyuk. “Lee Hyuk Jae?” ulang KyuHyun. EunHyuk mengangguk. “Hyuk Jae SUPER JUNIOR?” tanyanya. PUK! DongHae menjitak kepala KyuHyun. “Bukan BODOH!” kata DongHae.

“Annyeonghaseyo, Lee DongHae imnida.” Kata DongHae. “Annyeonghaseyo, Cho KyuHyun imnida.” Kata KyuHyun. “DongHae-ssi, KyuHyun-ssi, apa kalian berniat bekerja di sini?” tanya YeSung. DongHae menoleh pada KyuHyun bersamaan dengan KyuHyun yang menoleh pada DongHae. “Hm, aku sih mau-mau saja, tapi..” kata DongHae memutuskan perkataannya. “Tapi kami tinggal di Seoul,” tambah KyuHyun.

“Kalian bisa kerja kalau saya telepon saja. Tidak setiap hari seperti EunHyuk.” Kata YeSung sambil menunjuk EunHyuk. DongHae dan KyuHyun bertukar pandang seakan-akan bertelepati. Keduanya kemudian mengangguk. “Bolehlah,” “Cari pengalaman,” kata mereka berdua di saat yang hampir bersamaan.

“YEE! KALIAN BAIK SEKALI!! Sekarang beritahu no. Hp kalian.” Kata YeSung memeluk KyuHyun dan DongHae. YeSung menyerahkan Hpnya. KyuHyun-pun lalu memasukan no. Hp nya, begitu juga DongHae. “Nih,” beri DongHae. “GOMAWOYO!” kata YeSung tersenyum lebar. “Apa aku boleh keluar?” tanya EunHyuk. “Oo, ya silahkan.”  Kata YeSung. “Kami juga, permisi.” Kata DongHae mengikuti EunHyuk.

“YA! HYUKKIE!” teriak DongHae. EunHyukpun menghentikan langkahnya dan menoleh. “Wae?” tanyanya singkat. “Kenapa kau tak pernah bilang maksudmu berpisah itu kemari?!” tanya DongHae. “Bukan urusanmu!” kata EunHyuk yang hendak berjalan lagi. “Huh, Cuma bisa menghindar. KyuHyun-ah, kita pulang!” kata DongHae menarik tangan KyuHyun. “Menghindar?? Aku tak salah dengar?” tanya EunHyuk memasang raut masam. “Kalau kau budek berarti kau salah dengar!” kata DongHae meninggalkan EunHyuk.

DongHae terus menarik KyuHyun. “Ya! Lee DongHae! YA!” bentak KyuHyun. “Eh, mian.” Kata DongHae sambil melepaskan tangan KyuHyun. “Kau kenapa sih? Sakit tahu!” kata KyuHyun memegang tangannya yang ditarik tadi.  “Hm, Cuma lagi kesal aja.” Kata DongHae tersenyum masam. “G-O-D-J-I-M-A-L!” kata KyuHyun. Tes tes, air mata DongHae mengenang lagi. “Waeyo?!” tanya KyuHyun kaget melihat DongHae menangis. “A.aniyo,” kata DongHae menghapus air matanya. “YA!” teriak KyuHyun sambil menatap tajam DongHae. DongHae seakan-akan tahu maksud dari tatapan itu. Ia menyerah.

“KyuHyun-ah, aku Cuma terharu bisa melihat teman lamaku,” jelas DongHae dengan memaksakan senyumnya walaupun dia tahu bahwa KyuHyun tidak akan percaya akan senyumnya dan perkataannya. “Godjimal! Jujur saja! Malhaebwa!” teriak KyuHyun. “Arasseo,” kata DongHae. “Ikut aku, duduk!”

“Sebenarnya Hyukkie sahabatku sejak aku pindah ke Seoul. Tapi, ia bilang kalau dia akan pindah ke Jepang ikut bersama kakaknya dan memutuskan tali persahabatan kita. Ternyata, ia malah di sini. Yang buat aku sedih, kenapa ia bohong? Dan kenapa ia harus memutuskan tali persahabatan itu?” jelas DongHae. “Sudahlah, Hae. Lagipula dia belum melupakanmu kan? Dia masih mengingat wajahmu dan namamu.” Sahut KyuHyun.

“Iya sih, tapi..” “Sudahlah. Biar saja, mungkin ada alasan tertentu dia berbohong padamu.” Potong KyuHyun. DongHae berpikir sejenak. “Arasseo, aku tak akan sedih lagi!” ujarnya pada KyuHyun atau lebih tepatnya pada dirinya sendiri. “O iya! Darimana kamu tahu kalau aku bisa menyanyi?” tanya KyuHyun. “Ow, aku tahu sejak kau pindah ke kamarku. Aku sering melihatmu menyanyi sambil menatap foto kedua orangtuamu. Aku mau masuk jadi diam di luar gara-gara terpana sama suaramu.” Jawab DongHae. “Jinjja?! Kau melihatnya??” tanya KyuHyun kaget. DongHae mengangguk.

“Ya sudah. Ayo! Kita pulang!” ajak DongHae. “Ne, ayo ke terminal bus terdekat!” ujar KyuHyun. Mereka-pun berjalan kaki menuju terminal bus terdekat. Akhirnya mereka sampai juga di Seoul dan langsung tepar begitu sampai di asrama.

4 bulan kemudian.

KyuHyun dan DongHae sudah mulai sering bolak balik dari Seoul ke Nohwon. Keseharian mereka jadi melelahkan, tapi juga menyenangkan. DongHae dan EunHyuk sudah seperti saat mereka bersahabat dulu. Sedangkan KyuHyun sangat senang melihat keakraban mereka. Setiap mereka sedang asik ngobrol berdua KyuHyun menuliskan sesuatu yang entah apa itu. Akibat kelelahan jantung KyuHyun mulai melemah. Tapi, DongHae dan EunHyuk tak pernah menyadarinya karena mereka sangatlah tidak mengerti tentang kesehatan. DongHae yang sudah terbiasa bangun pagi, bangun kemudian membangunkan KyuHyun. “KyuHyun-ah! Ireona!” ujar DongHae. Tak ada respon sedikitpun dari KyuHyun. DongHae menghampiri ranjang KyuHyun lalu membuka selimut KyuHyun. KyuHyun berkeringat deras, wajahnya pucat. Apa yang terjadi dengannya? “KyuHyun-ah! Waegeurae? Wajahmu pucat sekali!” tanya DongHae menguncang-guncangkan bada KyuHyun.

Tangan DongHae langsung memegang dahi KyuHyun. Panas! “Omo! Panas sekali!” teriak DongHae kaget. Nafas KyuHyun mulai tak beraturan. “Om..ma… App…a” gumam KyuHyun. DongHae langsung mengangkat KyuHyun dan melarikannya ke rumah sakit. Di rumah sakit, KyuHyun langsung masuk UGD karena diperkirankan bahwa panasnya mencapai 40°. DongHae langsung menelpon orangtua KyuHyun dan EunHyuk.

“Annyeonghaseyo, Ajussi! LeeDongHae imnida! KyuHyun masuk rumah sakit! Panasnya sampai 40°. Kalau ajussi masih menganggap KyuHyun sebagai anakmu, segera datang ke rumah sakit!” ujar DongHae di gagang telpon. Kemudian dia juga menelpon Omma-nya KyuHyun dengan perkataan yang sama. EunHyuk juga ditelpon olehnya, ia tak mau menanggung resiko sendiri.

Omma dan Appa KyuHyun begitu mendengar perkataan DongHae melalui telpon hanya bisa terdiam. Tapi, mereka masih tetap melanjutkan tugas mereka yang lagi seperempat. Karena mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa anak mereka mempunyai penyakit. EunHyuk pun dengan cepat langsung menuju rumah sakit.

“Permisi, dengan keluarga KyuHyun-ssi?” tanya seorang dokter. “Ani, saya sahabatnya, wae?” sahut DongHae. “Hm, penyakit KyuHyun-ssi sudah sangat parah. Jantungnya melemah akibat kelelahan. Jika tidak segera di operasi mungkin dia akan meninggal.” Ujar Dokter. “Mwo?!!! Penyakit KyuHyun bertambah parah?!” DongHae berteriak kaget. “Ne, jantungnya sudah mulai tidak bekerja, dan terus melemah. Jika tidak segera dioperasi mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, kemungkinan operasi ini berhasil hanya 40%.” Sahut Dokter. “Lakukan saja dok! Apapun yang terbaik untuknya lakukan saja!!” ujar DongHae. Dokter mengangguk kemudian kembali masuk UGD.

EunHyuk pun datang. “DongHae-ah!” panggilnya. “Hyukkie! Akhirnya kau datang!” EunHyuk menghampiri DongHae. “Bagaimana dengan KyuHyun?” tanyanya. “Pe..penyakitnya..bertambah parah. Kata dokter, ji..jika tidak dioperasi,,.. mungkin Kyu akan meninggal. Geunde… keberhasilan operasinya Cuma 40%.” Jelas DongHae mulai menangis. “MWO??!” teriak EunHyuk kaget. “Bagaimana bisa? Bukannya selama ini dia selalu baik-baik saja?” tanya EunHyuk. “A..a..aku hiks juga melihatnya seperti itu.. hiks, tapi kita saja yang bodoh! Telat mengetahui!” umpat DongHae ke dirinya sendiri.

 

“Sudahlah DongHae, ini bukan salahmu. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan.” Hibur EunHyuk merangkul sahabatnya DongHae. “ANIYA! Ini salahku! Semuanya salahku!” bentak DongHae menangis. “DongHae-ah, ini rumah sakit. Jangan berteriak, tenanglah.” Ujar EunHyuk menepuk pundak DongHae. “Bagaimana aku bisa tenang!!!” bentaknya berdiri. Ia tersengal-sengal, “ARGH! Aku bisa gila!” *backsound : Micheoga* DongHae menghempaskan dirinya di tempat duduk kemudian menutupi wajahnya agar tak ada yang melihatnya menangis.

 

ToBeCon

Mian kalau kepanjangan….

coment please :DD

One response

  1. Suamiku~~ kau sakit lg? Selalu dn selalu j jd cast kyk gnh, tp aku suka thor!!!

    Keren!!!

    September 5, 2011 at 10:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s