This is my world…

미친 거니 | Part 1 |

미친 거니(Michin Geoni)

 GOING CRAZY

Author  : Ai_ELF

Rated    : PG-15

Cast       :

– Kang Hyun Hwa (CARLA ANSELMA)

– L / Kim Myungsoo (INFINITE)

Genre    :

– Tragedy

About fanfict :

– this fanfiction is dedicated to Carla / Lala. I’m sorry because it’s not a good fanfiction . I just try to do the best to make this ff. Well, please no flame and no bash… just imagine how hard when I wrote this ff.

Songfict :

–  Song Ji Eun (Secret) – Going Crazy (미친 거니)

>>>>well … just enjoy it guys  :D <<<<

– Prolog –

Jika suatu saat kau mencintai seseorang, biarkan dia nyaman bersamamu bukan biarkan dirimu merasa nyaman di dekatnya. Jika suatu saat kau mencintai seseorang, bukan memikirkan bagaimana nasibku tapi bagaimana nasib kita. Bukan memikirkan egomu, tapi pikirkan perasaannya. Tapi jika suatu saat ada seorang datang kepadamu dengan segala cintanya yang mengalir hanya untukmu maka biarkan dirimu sedikit masuk ke dalam kehidupannya. Jika kau menganggap dia buruk maka jangan sekali-sekali kau melakukan hal yang tidak seharusnya kau lakukan. Jika suatu saat kau ketakutan karena seseorang yang selalu menggilaimu maka jangan sekali-sekali kau berusaha berlari. Karena saat kau berlari darinya maka kau tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaannya yang selalu ingin ada untukmu. Perasaan itulah cinta yang sebenarnya. Apa cinta itu buta? Ya… cinta itu buta karena dia akan selalu ada untukmu walaupun saat itu kau sangat tidak mengharapkannya. Cinta… dia akan menutup mata, hati, pikiran, telinga dia akan menutup semuanya dari segala hal selain dirimu. Dia benar-benar buta arah… cinta yang menyedihkan, tapi kau tak akan bisa hidup tanpa cinta…

Cinta memang egois, tapi itulah cinta yang sebenarnya. Walaupun kau menjauhinya dia akan menjadi pelari yang sangat cepat, dia akan menjadi pelari yang terus mengejarmu. Terus mengejarmu hingga kau lelah menjalani hidup ini. Terus mengejarmu hingga kau berpikir bahwa kematian akan menyelesaikan segalanya. Semua tentang kisah cinta ini, hal yang sangat sulit dimengerti. Aku tak bisa berpihak pada siapapun. Karena cinta memang bukanlah sebuah kepastian. Ya… cinta tak memiliki kepastian akan siapa yang benar dan siapa yang salah…

            Bukankah cinta itu akan selalu mengikutimu? Dia akan menjadi bayanganmu. Dia akan selalu berusaha untuk dekat denganmu. Menjauh pun sia-sia karena dia akan selalu berusaha bersamamu. Ketika kamu senang dia akan datang secara diam-diam dan ikut merasakan yang kau rasakan. Ketika kau ingin ketenangan maka dia dia akan menemanimu, memperhatikanmu dari jauh tetap dalam diam. Ketika kau kesepian maka dia akan datang dan menemanimu. Ketika kau marah dia bersedia menjadi bahan pelampiasanmu walaupun itu menyakitkan. Segala kesakitan tidak dia rasakan, ya… karena dia telah tergila-gila padamu. Tahukah kau saat kau ingin berlari, berlari dari semua masalah dalam hidupmu maka dia akan datang padamu, menemanimu berlari hingga kau lelah dan berhenti. Dan ketika kau besedih maka dia akan datang dan mendekapmu. Mungkin ketika dia berusaha menghentikan tangis dan kesedihanmu namun dia gagal maka dia akan menangis bersamamu, berharap bisa meringankan bebanmu dengan ikut membagi tangis dan kesedihan bersama.

            Cinta itu ibarat air…

            Sesuatu yang sangat dibutuhkan. Tapi ketika terlalu banyak air kau tidak akan menyadari betapa pentingnya itu bagi kehidupanmu. Bahkan terkadang kau justru mengeluh kenapa dia selalu ada. Baru ketika kau tertawa, bersedih, ataupun bosan namun taka da siapapun di sampingmu… tidak ada lagi orang yang mencintaimu di sisimukau baru akan sadar. Kau akan menangis sejadi-jadinya berharap dia kembali. Dan saat itulah yang paling menyakitkan. Kau akan menyadari betapa berharganya dia bagi kehidupanmu. Penyesalanmu yang sia-sia.

– prolog end –

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

 

Myungsoo’s  POV

Apakah begini yang disebut cinta buta?

Apakah begini harus menjalani kehidupan dengan cinta yang tak terbalaskan?

Sakit…

Sungguh sakit…

Kesakitan ini…

Segala yang terjadi dalam hidup ini memang begitu menyakitkan dan menyedihkan…

Jika boleh ,aku akan memilih untuk tidak pernah ada…

Karena kesalahanku yang paling fatal adalah aku yang terlahir di dunia ini…

Tapi semua telah terjadi…

Aku selalu berjalan mendampingimu…

Apakah kau tidak ingin melihat ke dalam hatiku?

Melihat untuk sekejab saja…

Melihat segala kegilaanku akan dirimu…

Dirimu yang begitu sempurna…

Kau…

Apapun yang terjadi…

Tetaplah dirimu yang terindah dalam hidupku…

Apapun yang terjadi kau tetap yang terindah bagiku…

– Myungsoo’s POV end-

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

– Author’s POV-

Lampu disko yang berkelap-kelip menjadi pemandangan yang indah di club ini setiap malam. Malam yang indah untuk mereka yang mencari kebebasan dan ingin bersenang-senang. Alunan musik dari DJ malam itu mengiringi jalannya malam yang semakin larut. Semakin larut club itu semakin ramai. Hyunhwa meraih gelas di hadapannya lalu berusaha meminumnya. Dia membalikkan gelas yang dipegangnya namun tidak ada setetes alkoholpun yang tersisa dalam gelasnya.

“aku mau lagi!!” bentaknya pada bartender sembari memukulkan gelasnya di meja.

“kau sudah mabuk. Tak ada lagi untukmu” jawab bartender di hadapannya.

“apa?? Aku belum mabuk…haha…”

“yang begitu kau bilang tidak mabuk. Sudahlah aku akan memanggil taksi untuk mengantarmu pulang”

“biar aku saja yang mengantarnya” seseorang mendekati Hyunhwa.

“kau siapa?” Tanya bartender itu.

“aku temannya… akan kuantar dia” jawab orang itu lagi.

“Hyunhwa kau mengenalnya?” Tanya bartender pada Hyunhwa.

“ng… dia? Ya ya…” jawab Hyunhwa kurang meyakinkan dengan keadaannya yang setengah sadar.

“kau dengar? Percayalah aku akan mengantarnya”

“baiklah. Hyunhwa temanku jadi jaga dia” pasrah si bartender yang ternyata teman Hyunhwa.

“ya. Aku mengerti”

“tunggu. Siapa namamu?”

“myungsoo”

Lelaki yang bernama Myungsoo itu meraih tangan Hyunhwa dan memapahnya keluar dari club itu.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Keesokan harinya Hyunhwa terjaga dari tidurnya. Dia mengerjabkan matanya berkali-kali sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit karena dia meminum alkohol sangat banyak tadi malam. Hyunhwa berjalan menuju kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Dia memandang bayangannya dalam kaca. Dia lalu mengernyitkan dahinya. Mengingat-ingat yang terjadi tadi malam. Rasanya dia masih di club. Lalu siapa yang mengantarnya pulang? Dia berusaha mengingat terus namun tidak berhasil. Dan akhirnya dia menyerah sendiri. Dia lalu mandi dan mengganti pakaiannya yang masih berbau alkohol.

Tak lama kemudian Hyunhwa menuju kamarnya lalu mendapati sebuah memo di mejanya yang bertuliskan “selamat pagi sayang…semoga tidurmu tadi malam nyenyak.” . hyunhwa mengerutkan dahinya melihat memo itu.

“siapa yang meletakkan ini di sini” gumam Hyunhwa keheranan. Seingatnya dia tinggal sendirian. Lalu memo itu, bagaimana seseorang bisa masuk ke rumahnya dan meletakkan memo itu?

“ah…sudahlah aku tak peduli” gumam Hyunhwa lebih kepada dirinya sendiri sembari membuang memo tadi ke tempat sampah.

Hyunhwa menuju ke garasi, menaiki mobilnya dan segera menuju ke tempat kerjanya di sebuah butik terkenal di Seoul. Hyunhwa merupakan seorang desainer muda yang terkenal di Seoul. Dengan umurnya yang baru 19 tahun dia sudah menjadi seorang desainer ternama. Dia segera menuju ruang kerjanya. Namun tanpa dia ketahui ada sepasang mata yang sedari tadi terus mengedarkan pandangannya ke arah Hyunhwa. Hyunhwa meletakkan tasnya di meja kerjanya namun saat itu juga matanya langsung tertuju pada sebuket bunga yang tergeletak dengan indahnya di atas meja kerjanya. Di dalamnya terdapat sebuah memo dengan kertas berwarna biru bertuliskan “yellow acacia…I give you this flower with all my heart…with love…♥”

Hyunhwa mencium aroma bunga itu sejenak. Dia masih berpikir siapa orang yang memberikan bunga itu untuknya. Seingatnya bunga acacia warna kuning melambangkan cinta rahasia. Benar-benar suatu rahasia yang membuatnya penasaran. Dia kembali melihat memo itu dan sepertinya mengingat sesuatu. Tulisan dalam memo itu, sama dengan tulisan dalam memo yang tadi dia dapatkan di kamarnya. Mungkinkah yang mengiriminya memo dan bunga itu adalah orang yang sama? Namun Hyunhwa tidak punya waktu untuk terus berlarut-larut dalam rasa penasarannya akan bunga dan memo itu.

-end of author’s POV-

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Myungsoo’s POV

Siapa aku ini? Aku mungin memang tidak pantas baginya. Aku hanyalah seorang biasa bernama Kim Myungsoo yang mengagumi seorang yang hebat seperti Hyunhwa. Kang Hyunhwa, dia adalah teman sekolahku semasa SMP dulu. Sudah sejak lama aku memendam perasaanku padanya. aku selalu mengaguminya tanpa berani mengatakannya pada Hyunhwa. Aku memang pengecut. Aku benci diriku yang seperti ini namun aku tahu pasti, ketika aku mencoba memberanikan diri untuk mendekati Hyunhwa dia pasti akan menolak kehadiranku. Entahlah… mungkin dia tidak menyukaiku. Sejak SMP pun jika aku berusaha mendekatinya dia akan selalu berpaling dariku dia menolakku mentah-mentah. Namun hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya. aku benar-benar mencintainya. Segalanya akan kulakukan untuknya. Segalanya akan kuberikan padanya asal dia mau menerima cintaku. Tapi pada kenyataannya aku masih terlalu pengecut untuk mendekatinya sekali lagi seperti semasa sekolah dulu. Aku takut… aku takut sakit hati untuk kedua kalinya. Aku tidak bisa mendengar kata-kata yang membuatku sakit lagi.

Pada akhirnya aku akan menjadi pengagum rahasiamu. Biarlah untuk saat ini rasa cintaku aku pendam sendiri saja. Biarlah aku menjadi orang yang dianggap pengecut asalkan aku bisa selalu mengetahui keadaan Hyunhwa. Segala tingkah lakunya, segalanya yang dia lakukan aku akan selalu berusaha mengetahuinya. Untuk saat ini semua itu sudah cukup bagiku. Aku sudah puas bisa melihat dirinya dari jarak yang cukup dekat seperti sekarang ini. Walaupun terhalang kaca ruang kerjanya. Tapi aku masih bisa melihat jelas wajahnya yang cantik. Senyumnya yang selalu membuat hatiku bergetar tidak karuan. Semuanya masih tertangkap jelas dalam pandangan mataku. Itu sudah cukup bagiku.

Aku berjalan menjauhi butik tempat Hyunhwa bekerja. Aku memainkan kunci yang aku genggam. Kunci rumah Hyunhwa. Akulah yang mengantarnya saat dia mabuk berat. Akhirnya aku bisa mendapatkan kunci rumah Hyunhwa. Mungkin dia sudah sadar kehilangan kunci ini ya? Haha… biarlah. Mungkin suatu saat kunci rumah ini akan berguna. Tapi tunggu, jangan bepikiran buruk tentang diriku. Walaupun aku memiliki kunci rumah Hyunhwa tapi aku tak akan berpikiran buruk untuk datang dan berbuat jahat padanya. karena aku mencintainya. Aku sungguh tidak ingin hal buruk terjadi padanya.

-end of Myungsoo’s POV-

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

I follow in your shadow

I make a phone call

I become thrilled at the sound of your shaking breath

My heart runs after your increasingly quick steps

I think I’ll go crazy

The long night gets darker

Under the dead streetlamp in front of your house

I’m watching you through the crack in your window

Until the night ends

Come on and find me

You keep playing a suffocating game of hide-and-seek with me

You, you, you

You’re inseparable from me

 

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

– Author’s POV-

 

 

 

Kim Myungsoo…

 

Seorang yang terperangkap dalam cinta yang begitu dalam…

Cinta yang membuatnya bisa melakukan apa saja asal bisa mengamati pujaan hatinya…

Cinta ini menyedihkan…cinta yang membuat menangis …tapi cinta yang membuat bahagia…

Ya… cinta ini menyakitkan namun cinta inilah yang membuat Myungsoo tetap bisa tersenyum…

Malam itu Hyunhwa baru saja pulang dari tempat kerjanya. Dia merebahkan dirinya di kasur. Baru saja ingin memejamkan mata namun handphonenya berbunyi.

“yoboseyo…” jawab Hyunhwa dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Tak ada jawaban sama sekali…

“nuguseyo??” Tanya Hyunhwa sekali lagi.

Namun tetap tak ada jawaban yang menyebabkan Hyunhwa memutuskan telepon itu.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Myungsoo terpaku di seberang sana. Dia menggenggam handphonenya dengan erat tanpa berani mengatakan sepatah kata pun. Baginya dapat mendengar suara Hyunhwa begitu jelas seperti di telepon tadi adalah hal yang sangat menyenangkan. Suara lembut Hyunhwa yang membuat hatinya berdebar-debar membuatnya membisu dan tak bisa berkata apa-apa. Terlampau senang sampai-sampai Myungsoo mencium layar handphonenya. Mendengar suara hyunhwa bagaikan mendengar suara merdu seorang bidadari baginya.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Seperti biasa Hyunhwa bangun pagi-pagi dan bersiap untuk bekerja. Setelah siap dia segera menuju tempat kerjanya. Lagi-lagi ada sebuket bunga yang tergeletak dengan indahnya di meja Hyunhwa. Masih bunga yang sama, juga dengan memo yang sama persis dengan memo kemarin. Hyunhwa menjadi sangat heran akan semua hal itu. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Siapa orang yang mengiriminya bunga dan memo tersebut.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Still Author’s POV

Myungsoo berjalan ke  arah rumah Hyunhwa. Hari ini hari sabtu sehingga dapat dipastikan Hyunhwa libur dan dia pasti ada di rumah. Dan benar saja, ketika Myungsoo sampai di sana dapat Myungsoo lihat dari jendela, Hyunhwa sedang berkutat di depan laptopnya. Myungsoo terus memperhatikan Hyunhwa, dan dia menjadi tersenyum sendiri melihat paras cantik pujaan hatinya itu. Seharian itu Myungsoo terus saja memperhatikan Hyunhwa hingga hari sudah larut dan Myungsoo memutuskan untuk pulang. Namun langkahnya terhenti ketika dia melihat mobil Hyunhwa keluar dari garasi. Myungsoo pun memutuskan untuk mengikuti Hyunhwa. Dia melajukan motornya di belakang mobil Hyunhwa.

Sampailah di club tempat di mana Hyunhwa sering menghabiskan waktunya di hari libur. Myungsoo masih tetap mengikutinya. Di sana Hyunhwa banyak sekali minum sehingga membuat Myungsoo jadi khawatir. Dia pun menghampiri Hyunhwa.

“kau baik-baik saja?” Tanya Myungsoo pada Hyunhwa.

“hik…siapa kau?” jawab Hyunhwa sedikit tidak jelas.

“hey kau…yang beberapa hari lalu membawanya pulang kan?” Tanya seorang bartender yang ditemui Myungsoo beberapa hari lalu ketika dia membawa Hyunhwa yang mabuk berat pulang ke rumahnya.

“oh…ya.” jawab Myungsoo singkat.

Malam itu Hyunhwa yang sedang mabuk berat mulai berbicara yang tidak jelas. Dia bercerita tentang memo dan bunga yang selalu dia dapatkan setiap hari. Dia juga bercerita bahwa dia merasa selalu diikuti seseorang. Tanpa dia sadari, orang itu tepat berada di depannya.

Setelah beberapa saat berlalu akhirnya untuk yang kedua kalinya myungsoo mengantarkan hyunhwa pulang. Namun kali ini Myungsoo tidak membawa Hyunhwa pulang ke rumahnya namun ke rumahnya sendiri.

Pagi itu Hyunhwa terbangun dari tidurnya. Dia merasa sekelilingnya berbeda.

“selamat pagi…” sapa Myungsoo yang sudah ada di balik pintu kamar itu. Membawa nampan berisi roti isi dan susu.

“k…kau…siapa?” Tanya Hyunhwa dengan gugup.

“jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Namaku Myungsoo… tadi malam kau mabuk jadi aku bawa saja kau kesini”

“tadi malam?”

“iya…kau pasti tidak ingat ya”

“…”

“hmm..ini kau sarapan dulu. Kau jangan khawatir. Aku tidak akan menyakitimu.”

“n..ne…”

“oh ya..bajumu…bau alkohol…mandilah dulu. Itu bajunya sudah kusiapkan”

Myungsoo keluar dari kamar itu meninggalkan Hyunhwa yang masih kebingungan. Dan setelah 30 menit Hyunhwa keluar. Hyunhwa melihat-lihat isi rumah Myungsoo dan semua hal yang ia temui di rumah itu membuatnya menjadi merasakan sesuatu yang aneh. Rumah Myungsoo penuh dengan fotonya. Foto dirinya yang bukan hanya beberapa namun ada ratusan. Semua tertempel dengan rapi di dinding rumah Myungsoo. Hyunhwa bergidik menyadari hal itu. Sungguh, foto-foto di rumah Myungsoo sepertinya hasil jepretan Myungsoo sendiri. Dan sampailah Hyunhwa di sebuah kamar. Pintu kamar itu sedikit terbuka dan Hyunhwa memutuskan untuk masuk. Di sana ada banyak sekali foto dirinya berserakan. Di tempat tidur, meja, lantai semua ada fotonya.  Ketika Hyunhwa hendak kembali betapa kagetnya dia karena sudah ada Myungsoo di ambang pintu. Myungsoo berjalan mendekat ke  arah Hyunhwa. Hyunhwa pun mundur dengan tatapan takut dan langkah yang sedikit gemetar.

“k..kau..siapa kau?”

“aku? Kau tidak mengingatku , Kang Hyun Hwa?”

“k…kenapa kau tahu namaku?”

“Ije nal bwa!” (lihat aku!)Myungsoo mendekati Hyunhwa, menggenggam tangan Hyunhwa dan mendekatkan wajahnya ke  arah Hyunhwa.

“…” tanpa menjawab apapun Hyunhwa memalingkan wajahnya.

“apa kau tidak ingat aku?”

Hyunhwa memberanikan  diri untuk menatap Myungsoo. Dan saat itu dia baru menyadari sesuatu.

 

_to be continued_

Coment please :DDDD

 

2 responses

  1. choi hye won

    Lanjuuuut, thor!😀 bikin penasaran..

    August 5, 2011 at 8:54 pm

    • 🙂 secepatnya aku post… makasih udah baca+komen ^^

      August 6, 2011 at 2:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s