This is my world…

TROUBLE OF LIFE PART 2 (Friendship of KyuHae)

Author : Quincy

Cast:

Lee Donghae aka Donghae

Cho Kyuhyun aka Kyuhyun

Other:

Siwon

Kangin

Rated: G

Genre: Frienship,Sad Drama

Review : Chapter 1

______________________________________________________________

Air mata DongHae terus mengalir jika mengingat kejadian itu. Di pantai sudah mulai ramai. Donghae merasa tak nyaman jika dilihatin dengan tatapan kasihan dan heran dari orang-orang yang datang. Ia menghapus air matanya dan berdiri.

SRET.

“OMO?” DongHae kaget melihat seseorang yang ada di depannya. “Kau siapa?” tanya DongHae menghapus air matanya yang terus mengalir. Orang di hadapannya rupanya seorang gadis. Gadis itu tersenyum. “Ini, kalau kau merasa sedih lihat saja ini.” kata gadis itu sambil memberikan sesuatu pada DongHae. DongHae melihat tangannya yang diletakkan sesuatu oleh gadis itu. Ia melihat sebuah bulu, ah kerenan ‘wing’ aja.

‘Wing’ itu berwarna biru terang dan sangat indah berkilau. Dari wajah DongHae terlihat jelas ia mengatakan ‘WOW’. Saat ia mendongak ingin mengucapkan terima kasih, “Gamsa—“ kata-katanya terputus karena gadis itu sudah menghilang. Entah ke mana, mata DongHae menjelajahi setiap sudut pantai mencari sosok gadis tadi, tetapi tak ada satupun gadis seperti tadi.

DongHae kembali melihat bulu sayap biru itu. “Woaaah, indah sekali!” kata DongHae melihat keseluruhan bulu sayap itu.

‘Tapi–?’

‘Darimana datangnya gadis itu?’

‘Dan kapan dia pergi?’

Pikir DongHae.

“Ah, bodo amat ah. Mending aku bersyukur aja. J” DongHae tampak senang sehingga ia mengembangkan senyumannya yang memesona. Gadis-gadis yang lewat langsung terpesona melihat senyum DongHae. DongHae memasukkan bulu sayap biru itu ke kantong bajunya.

Keesokan harinya. Di asrama.

“Hufft, kenapa aku sama sekali tak ada niat untuk ke sekolah sih? Aku malas bertemu Kangin and the gang.” Kata DongHae pada diri sendiri. Ia sudah siap menggunakan seragam rapi. “Ah, ngapain juga takut sama orang itu?! Ga jja!” DongHae berangkat.

Sampai di sekolah.

“DongHae!” sapa SiWon yang kebetulan melihat DongHae di depan gerbang sekolah. DongHae tampaknya tak mendengar panggilan SiWon karena ia memakai headphone. “Aish, anak itu sepertinya budeg.” Kata SiWon. Kemudian ia berlari menepuk keras pundak DongHae. DongHae kaget.

“YA! Kau ini!” teriak DongHae sambil melepas headphone-nya dan memegang pundaknya yang ditepuk SiWon. “Kau sih! Aku panggil nggak kamu denger!” kata SiWon. “Hehe, mian.” Kata DongHae sambil mengecilkan suara headphone-nya. DongHae merangkul pundak SiWon. “Hei, kau sudah buat PR Fisika belum?” tanya DongHae. “Udah donk!” kata SiWon membanggakan diri.

“Wah rajiiinnya. . .pinjam donk.” Kata DongHae sok muji. “Ah, dasar maunya!” SiWon memukul kepala DongHae. “Jadi kamu ngasih nggak?” tanya DongHae memastikan. “Iya, iya.” Kata SiWon. “Hehe, gomawo.” Kata DongHae nyengir.

Di kelas.

DongHae sibuk menyalin PR Fisika SiWon. BRAK! “DONGHAE!!” teriak KangIn ketua gang pembuat onar di sekolah. DongHae pura-pura tak mendengar karena dia lebih mementingkan menyalin PR daripada berurusan dengan orang susah. “YA DONGHAE!” KangIn memukul meja DongHae. DongHae mulai kesal. Tapi ia berusaha memendam rasa kesal itu. GREP! KangIn mencengkram rambut DongHae agar ia melihat ke arahnya. “HEI! Aku ini sedang bicara padamu!” bentak KangIn.

“AKH!” DongHae merasa kesakitan dengan tarikkan tersebut. Ia mendongak melihat mata KangIn. Ia menatap tajam pada KangIn dengan tatapan iblisnya. Ia menepis tangan KangIn dari rambutnya. “AISH! WAE? Apa lagi sih?!!” bentak DongHae. Semua mata anak-anak di kelas mulai tertuju pada arah suara tersebut. DongHae merasa dengan jelas kalau semua melihatnya.

“APA LIAT LIAT?!!” teriak DongHae sambil mengedarkan pandangan iblisnya. Semua terkaget dan berpura-pura cuek dengan hal itu. “Ikut denganku!” teriak KangIn menarik tangan DongHae kasar. “YA! Aku bisa jalan sendiri!” teriak DongHae menepis tangan KangIn.

Mereka berjalan menuju gudang belakang. Tiba-tiba, BUUK! KangIn memukul DongHae hingga ia tersungkur ke lantai. DongHae merasa ujung bibirnya terluka. “YA! Apa-apaan kau?!” kata DongHae berdiri dan mengelap darah dari ujung bibirnya.

“KAU! Seenaknya saja mendekati Taeyeon-ku!!” bentak KangIn. “Huh?? Mendekati? Apa aku salah dengar?” ulang DongHae. BUUK. Lagi dan lagi KangIn memukul DongHae. DongHae mulai kesal, amat sangat kesal. GEBRAAK. DongHae memukul KangIn dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan kuat. DongHae sengaja membuat pukulannya meleset hingga 0,5 mm <nanggung amat?>. Pukulan DongHae membuat tembok menjadi retak.

KangIn hanya syok, diam dan berkeringat dingin melihat tangan yang bahkan ia tak tahu kapan digerakan oleh DongHae. “Dengar ya! Aku tak pernah mendekati Taeyeon-mu! Dia hanya menanyakan tugas padaku! Dan lagi satu! Jangan kau sembarangan memukulku lagi! Kalau tidak, nasibmu akan sama dengan tembok ini!!” bentak DongHae sambil menunjuk tembok yang retak itu.

DongHae tak peduli terhadap tangannya yang terluka parah itu dan terus berjalan menuju kelasnya. DongHae ingat ia membawa saputangan. Ia membalut lukanya dengan saputangan. “Aish, anak itu!” kata DongHae bergumam tak jelas. Untungnya DongHae sudah selesai menyalin PR, jadinya dia santai.

Bel berbunyi.

DongHae duduk di tempat duduknya sebelah Amber. Ia mengeluarkan semua alat tulis. Terdengar suara langkah kaki yang sangat jelas. Itu suara hak yang biasa dipakai HeeChul sonsaengnim <wali kelas> saat mengajar. Grek, HeeChul masuk ke kelas. Seperti biasa HeeChul terlihat sangat cantik walau umurnya sudah 27 tahun.

“Annyeong, anak-anak. Kita kedatangan guru baru. Ia akan mengajarkan kalian bahasa China.” Jelas HeeChul. DongHae tak peduli karena menganggap itu bukan hal yang penting. “Silahkan, pak.”  Guru baru itu masuk. Postur tubuh nya berbentuk ‘S’ tingginya sekitar 180 cm. “Annyeonghaseyo, chouneun HanKyung imnida.” Sapa HanKyung sonsaengnim.

“Annyeonghaseyo, sonsaengnim.” Sapa balik semua murid di kelas kecuali DongHae. “Hm, anak-anak, saat perlajaran saya nanti di jam ke 4 kita tidak belajar dulu. Melainkan jam perkenalan terlebih dahulu.” Kata HanKyung. “YEEE!” semua bersorak senang.

“HeeChul sonsaengnim, saya permisi.” Kata HanKyung berlalu. “Ne.” HeeChul meletakkan buku yang ia bawa di atas meja guru. “Anak-anak, sekarang ibu absen dulu.” “Ne,” semua diabsen satu persatu. Jumlah Nihil.

“Sekarang kumpulkan tugas kalian!” kata HeeChul. Semua maju meletakkan buku tugas. “Apa sudah semua mengumpul?” tanya HeeChul meyakinkan. Ia mengecek kembali. Lengkap. Dengan begitu beres.

(langsung aja ya, biar cepet xP)

Pulang sekolah, DongHae lagi dan lagi pergi ke pantai. Ia duduk dan memandangi desiran ombak pantai. Tes tes. Lagi-lagi air mata DongHae menetes tanpa aba-aba. Ia merasa lebih baik ia pulang dari pada menangis di depan semua orang. Ia berjalan menuju asrama. Selama perjalanan air matanya tak juga berhenti mengalir.

Sesampai di asrama.

DongHae meletakkan di kasurnya. <ada dua kasur lho, jangan salah! (>0<)> Lagi-lagi DongHae duduk di sebelah jendela dan menangis. Sebelum itu DongHae sudah mengunci kamarnya agar tak ada yang masuk sembarangan.

CKREK. Pintu terbuka. DongHae kaget dan langsung menghapus air matanya. “Nuguseyo?” tanya DongHae tanpa melihat siapa orangnya. Orang itu <yang masuk> melihat dengan jelas bahwa DongHae sedang menangis. “Mianhaeyo, aku masuk sembarangan.” Kata orang itu. Ia kemudian meletakkan tasnya. “Dari mana kau dapat kunci kamar ini?” tanya DongHae dengan berusaha menutupi bahwa dia baru saja menangis.

“Dari ketua asrama.” Kata orang itu. “Kau siapa?” tanya DongHae dengan tatapan curiga. “Aku? Kenalkan, Kyuhyun imnida, bangapseumnida.” Kata orang yang bernama KyuHyun itu sambil mengulurkan tangannya. “Aku teman sekamarmu yang baru,” kata KyuHyun menambahkan. “Ah, DongHae imnida. Bangapseumnida.” Kata DongHae membalas salamnya.

“Ayo duduk, KyuHyun-ssi.” Kata DongHae sambil memberi tempat duduk. “Ah, gamsahamnida. Kau tak usah menggunakan bahasa formal. Panggil aku KyuHyun saja.” Kata KyuHyun sambil duduk. “Cheonmaneyo. Hmm. . .arasso KyuHyun,” kata DongHae.

Siiiing.

Hening beberapa saat.

“Mian, tadi aku tak sengaja melihatmu menangis.” Ucap KyuHyun perlahan membuka pembicaraan. “Ah, tak apa-apa.” Jawab DongHae singkat. KyuHyun terdiam sejenak. Lalu menambahkan, “Kenapa kau menangis?” dengan perlahan. “Erm—aku, aku nggak apa apa kok. Cuma ingat masa lalu.” Kata DongHae tergagap karena ia tak ingin ada orang yang mengetahui masa lalunya.

“Owh, maaf kalau aku ikut campur.” Kata KyuHyun. Lagi-lagi hening. “Oh iya, aku baru ingat kalau sekarang aku harus kerja!” teriak DongHae pura-pura lupa untuk memecahkan keheningan. “Ah, iya. Kau kerja apa?” tanya KyuHyun. “Nggak jelas, yang pasti di mini market. Udah ya, aku berangkat!” kata DongHae buru-buru.

Ia berdiri dengan cepat dan tak melihat saat beranjak dari tempat tidur ada meja di sebelahnya. DUAK. “AKH!” jerit DongHae meringis kesakitan. Tangannya yang terluka dan belum diobati itu menjadi berdarah. “DongHae-ssi, kau tak apa-apa?” tanya KyuHyun sempat kaget dan panik.

“Akh, ad..du..duh.” DongHae memegang tangannya yang berdarah itu. KyuHyun yang melihat darah terbelalak. “OMO! Kau berdarah! Aku obati dulu ya,” kata KyuHyun sambil mengambil kotak obat yang ada di kopernya. “Ti—dak usah,” kata DongHae.

“Nggak! Nanti bisa infeksi lho!” bentak KyuHyun sambil menggenggam tangan DongHae yang terluka. “Tap—“, KyuHyun hanya diam dan mulai mengobati luka DongHae. “Ad—duh! Sakit!” DongHae meringis, ketika KyuHyun mulai membersihkan luka DongHae menggunakan alkohol. Karena DongHae tak bisa diam KyuHyun jadi kesal dan mempercepat gerakan tangannya. “Akh! Sakit KyuHyun! Pelan-pelan donk!” kata DongHae sambil menendang kaki KyuHyun.

“Makanya diam!!” kata KyuHyun yang mulai masuk tahap terakhir. Ia membalut luka DongHae. “Nah, selesai!” “Gomawo! Wah, rapi sekali!” kata DongHae sambil melihat tangannya yang luka. “Hehe, udah biasa sih,” jelas KyuHyun. “Udah ya, aku mau kerja! Daa!” kata DongHae melambaikan tangannya. KyuHyun balas melambaikan tangannya.

DongHae menuju ke tempat kerjanya dengan perasaan sedikit lega. Ternyata teman sekamarnya adalah orang yang baik. Mungkin ia akan menjadi sahabat baik DongHae. KyuHyun, bernama lengkap Cho KyuHyun yang asalnya dari Seoul. Dia memilih tinggal di asrama untuk belajar mandiri.

DongHae yang baru mengenal KyuHyun hanya namanya saja, jadi ia perlu berhati-hati agar tak lagi menangis di kamar. Menurutnya, kamar asrama adalah tempat khusus untuknya, selain pantai. Sekarang tempat itu sudah hilang. Karena ia tak bisa lagi menangis sembarangan karena ada penghuni lain. Itulah salah satu hal yang membuatnya sedikit sedih mendapat teman baru.

Tapi di sisi lain, DongHae juga senang karena teman barunya itu sangat amat baik dan sangat perhatian. “Hufft, untung saja dia tidak menanyakan macam-macam,” kata DongHae pada diri sendiri dan ia kemudian menghela nafas panjang lagi.

Sesampai di tempat kerja DongHae melaksanakan tugasnya dalam bekerja. Kali ini dia dapat bagian membersihkan gudang penyimpanan. Ia membersihkan gudang penyimpanan barang dengan tahap pertama yaitu menyapu <ciaah, tahap.. bahasanya CUY!>

Setelah selesai membersihkan gudang tersebut sampai sekinclong-kinclongnya DongHae teringat sesuatu. Ia kemudian berlari menuju loker tempatnya menaruh tas. Dibukanya tas ransel yang ia bawa. SRET, “Wah, ternyata masih ada toh! Syukurlah,” kata DongHae begitu melihat bulu sayap biru di dalam tasnya. Itu adalah bulu sayap yang diberikan oleh gadis misterius. DongHae memandang bulu sayap tersebut. Lama kelamaan, entah karena apa DongHae mengembangkan senyumnya.

Ia merasa senang hanya dengan melihat bulu sayap tersebut. Bulu sayap itu kembali ia taruh. Saat menaruh, “DONGHAE!” teriak LeeTeuk sang manager. “Ah, NDE?!!” teriak DongHae yang terlihat buru-buru memasukkan bulu sayap itu. “DONGHAE!! YA!” teriakan LeeTeuk makin keras. Dengan cepat DongHae langsung meluncur dengan papan skatenya menuju ruang manajer <skate? Darimana dapet tuh?>

“Nde? Hyung, ada apa?” tanya DongHae yang sudah sampai di ruang manager dan kini dia tepat berada di depan LeeTeuk. LeeTeuk yang tak sadar akan kehadiran DongHae terkaget melihat DongHae sudah ada di hadapannya. “OMO!!” teriak LeeTeuk terkaget. “YA! Kau datang kayak setan sih?!” kata LeeTeuk mengusap-usap dadanya yang deg-degan.

“Kenapa, hyung? Ada masalah lagi?” tanya DongHae. “Ikut aku.” LeeTeuk lalu berjalan. “Ada apa hyung?” tanya DongHae sambil mengikuti LeeTeuk berjalan menuju ke mana. “Apa ini?” tanya LeeTeuk. DongHae terbelalak melihat apa yang ada di hadapannya. “Kenapa jadi seperti ini?” DongHae malah bertanya balik. Ternyata dihadapannya ia lihat gudang yang DongHae bersihkan hancur berantakan. Padahal DongHae ingat jelas kalau tempat itu sudah ia bersihkan hingga kinclong.

“Apa maksudmu? Kau tak lihat apa yang terjadi!” bentak LeeTeuk mulai kesal, karena barang dagangannya rusak. “Tap—tapi.. aku tadi sudah membersihkannya. Aku tak ada merusaknya!” jelas DongHae panik. “Bagaimana mungkin kau tak tahu ini!? Hanya kau saja yang dapat bagian disini! Di GUDANG ini!!” teriak LeeTeuk.

‘Ini nggak bener!’

‘Apa-apaan ini!’

Pikir DongHae.

“HYUNG! Aku tak pernah melakukan ini!” teriak DongHae. “Kalau begitu, kau harus ganti rugi barang-barang ini!” kata LeeTeuk yang sepertinya sudah kehilangan kesabaran. “Hyung! Kau kan tahu ekonomiku seperti apa! Bagaimana bisa aku membayar semua ini!” kata DongHae kesal. “TERSERAH bagaimana caramu! Yang pasti kau harus ganti rugi! Kau kira barang ini MURAH?!” bentak LeeTeuk tak terima <sepertinya LeeTeuk lagi sensi T.T>

‘SHIIT!’

‘Sial! Siapa yang melakukan ini!!’

Pikir DongHae geram.

“Hhhh, arasseo hyung! Aku pergi dulu!” kata DongHae berusaha memedam amarahnya. DongHae-pun langsung pergi begitu saja. Ia mengambil tasnya. Tanpa disadari, ada orang yang mengintip kejadian tadi. Setelah melihat DongHae berlalu, orang itu tertawa sepuas-puasnya dengan licik. Seakan-akan memperlihatkan bahwa ia senang akan kejadian tersebut. Siapakah orang itu? Dan kenapa ia senang melihat insiden tadi?

Di pantai.

Lagi lagi lagi dan lagi, DongHae pergi menuju pantai. Bawaannya masih kesal. Tapi, karena ia melihat pantai sedang banyak pasangan, jadi ia memutuskan balik ke asrama. Selama perjalanan, DongHae menendang kerikil-kerikil yang ada di sepanjang perjalanan.

BRAK! DongHae mendobrak pintu saat masuk kamarnya karena masih kesal. “OMO!” KyuHyun yang sedang melihat foto terkaget dan langsung menyembunyikan foto tersebut. DongHae tersadar bahwa di kamarnya ada orang lain.

“Ah, mian.” Kata DongHae singkat karena tak ingin bad moodnya bertambah buruk. “Ya, DongHae! Kau kenapa?” tanya KyuHyun sambil mengusap-usap dadanya yang masih berdebar akibat dobrakan pintu tadi. “Ani, aku tak apa-apa.” DongHae sepertinya benar-benar lupa kalau di kamarnya sudah ada penghuni lain.

KyuHyun hanya menatap DongHae dengan pandangan penuh tanda tanya. DongHae sepertinya tidak menyadari akan pandangan penuh pertanyaan oleh KyuHyun. Ia duduk di tepi jendela seperti biasanya. Karena angin yang bertiup sepoi-sepoi, membuat DongHae mengingat insiden dalam gudang.

‘Uuukh!’

‘Bagaimana caranya!!’

‘Dari mana bisa kudapatkan!!’

Pikir DongHae mengepalkan tangannya dengan erat.

KyuHyun sepertinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada DongHae teman sekamarnya.

DongHae, kau ini kenapa sih?

‘Kemarin nangis,’

‘Sekarang marah,’

‘Besok apa lagi?’

Pikir KyuHyun.

KyuHyun berniat menanyakan apa yang terjadi. Perlahan ia mendekati DongHae. DongHae masih terus menatap jauh ke luar. Tangan KyuHyun hendak memegang pundak DongHae untuk menyadarkannya. Tapi, tangannya tiba-tiba terhenti. Ia terkejut melihat DongHae yang duduk, menopang dagu dengan tangan. Tidak! Tidak hanya itu! DongHae juga menangis. Tatapan matanya seakan-akan kosong. Itulah yang membuat KyuHyun terkejut.

‘Menangis lagi?’

KyuHyun tampak kebingungan.

Sedangkan DongHae masih dalam pikirannya sendiri tentang masa lalu dan insiden tersebut. KyuHyun sepertinya sudah hilang kesabaran untuk menahan rasa ingin tahunya. PUK. KyuHyun menepuk pundak DongHae. DongHae sedikit terlonjak. Ia terkaget.

DongHae tersadar dari lamunannya. Ia dengan cepat menghapus air matanya. “Nde, KyuHyun~ah?” tanya DongHae masih menghapus air matanya. “Wae? Kenapa kau nangis lagi sih?” tanya KyuHyun yang sangat penasaran. DongHae mencoba memaksakan dirinya untuk tersenyum. Ia kemudian menggelengkan kepalanya.

“Tidak, tidak apa-apa.” Kata DongHae tersenyum. KyuHyun sudah tahu jelas siapa yang tersenyum alami dan mana yang dipaksakan. Karena keluarganya mempunyai rumah sakit. Pasien di sana selalu memaksakan diri untuk tersenyum, jadi dari situlah KyuHyun tahu bahwa senyum DongHae adalah senyum paksa.

GREP. KyuHyun memegang bahu DongHae. “Ya! Kau tak usah berbohong! Aku bisa dengan jelas melihat senyum paksamu! Kau berbohong kan?! Jangan simpan semuanya sendiri! Berbagilah pada orang yang mungkin bisa kau percaya!” kata KyuHyun sedikit membentak karena tak sabaran.

DongHae terkaget karena perkataan KyuHyun. Tanpa disadari air matanya jatuh lagi. “KENAPA?! Kenapa kau tak bercerita padaku!!?” bentak KyuHyun. Tiba-tiba rasa panas keluar dari dalam tubuh DongHae. DongHae sepertinya kesal dan tersinggung ditambah lagi moodnya yang sedang buruk. “Bagaimana bisa aku menceritakan hal privasi bagiku begitu saja padamu!!! Kau bukan siapaku!!” bentak DongHae mulai terisak.

“BUKAN ITU MAKSUDKU!!” KyuHyun berteriak. “Lalu apa? Kau ingin ikut campur urusanku?! Atau jangan-jangan kau suruhan orang?! Untuk memata-mataiku!!” teriak DongHae kesal, namun tetap menangis. Nafasnya tersengal-sengal karena amarahnya. DEG. KyuHyun terbelalak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut DongHae. Tiba-tiba….

PLAK!

KyuHyun menampar DongHae. Saking kerasnya tamparan KyuHyun, DongHae terjatuh dan pipinya merah serta panas. DongHae reflek memegang pipinya yang sudah merah dan panas itu. DongHae tampak kesal dan mendongak ke atas. Dia hendak memukul balik KyuHyun. Tapi, ia mengurungkan niatnya karena melihat KyuHyun menangis (?).

“LEE DONGHAE! Jangan sembarangan!! Kau tak tahu dengan latar belakangku, jadi jangan SEMBARANGAN BICARA!!” bentak KyuHyun yang mulai kehabisan nafasnya hanya untuk menahan amarah. KyuHyun merasa sesak, sepertinya penyakitnya kambuh lagi karena bertiak terlalu keras.

“CHO KYUHYUN! Kau juga sama! Apa urusanmu dengan masalahku!! Kenapa kau ikut campur!!!” teriak DongHae. “Hhh,, hhh.. aku..” KyuHyun tampak sesak nafas, suaranya melemah saat hendak menjawab pertanyaan DongHae. “Uukh,” BRUK. KyuHyun pingsan.

“OMO! KYUHYUN!” DongHae terbelalak kaget, ia menghampiri KyuHyun yang pingsan. “KyuHyun! KyuHyun!!” DongHae terus menepuk-nepuk pipi KyuHyun agar ia sadar. Tapi KyuHyun tetap tidak sadarkan diri. Dia terus terengah-engah. DongHae panik sangat panik. Ia kemudian menggendong KyuHyun dan memanggil taksi

segera menuju rumah sakit.

ToBeCon…

sangat di mohon kritik saran dan komentar~ >.<

3 responses

  1. Pingback: TROUBLE OF LIFE PART 3 (Friendship of KyuHae) « ♛Koreanfiction ♛

  2. Suamiku ada!!!!!

    Lanjut~~

    September 5, 2011 at 9:58 am

  3. Suamiku ada!!!!! Dy sakit ㅠ.ㅠ~~

    Lanjut~~

    September 5, 2011 at 10:00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s